Ilmu, Amal, Ikhlas…. (WestCoast TeleHalaqah)

Ma’rifatullah

MA’RIFATULLAH

Salah satu cara mengenal Allah (Ma’rifatullah) adalah dengan pendekatan
asma-asma Allah (Asma’ul Husna). Dalam surat An-Naas ayat 1-3 dinyatakan
sebagian dari asma Allah, yaitu Allah sebagai Rabb (ayat 1), Allah sebagai Malik
(ayat 2) dan Allah sebagai Illah (ayat 3).

I. Allah sebagai Rabb

Ayat 1 An-Naas Allah berfirman :
Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.”
Dari ayat tersebut jelas bahwa kita diperintahkan untuk berlindung diri kepada
Allah. Kata Rabb dalam ayat tersebut dapat diartikan sebagai zat yang
menciptakan, yang memberi rizki dan yang memiliki segala sesuatu.

1. Allah sebagai Rabb, Zat yang menciptakan (Al Khaaliq)

Bila kita meyakini bahwa Allah sebagai Rabb yang menciptakan, berarti
kita menyadari dan menyesuaikan dengan kehendak penciptaan Allah. Wujud
pengakuan Allah sebagai Rabb yang menciptakan kita adalah :
a. Tidak menyembah kepada selain Allah seperti dinyatakan dalam firman
Allah surat Adz-Dzariyat ayat 56 yang berbunyi: “Dan Aku tidak menciptakan
jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” Allah SWT adalah yang
menciptakan manusia dan segala isinya, oleh karena itu Allah SWT-lah
satu-satunya yang patut kita sembah.

b. Ibadah yang kita lakukan senantiasa berorientasi kepada prestasi
(ahsanu ‘amala). Dalam surat Al-Mulk ayat 2 Allah telah berfirman: “Yang
menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih
baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” Ibadah dalam hal ini
tidak hanya menyangkut aktivitas ritual belaka (secara teknis diatur oleh
Allah, seperti yang dinyatakan dalam rukun Islam), melainkan juga
menyangkut aktivitas sosial kita sehari-hari, di mana dalam melakukan
aktivitas tersebut, kita meniatkannya karena Allah dan konsekuensinya
Mensucikan Qalbu
kita harus selalu memperhatikan rambu-rambu dari Allah SWT dalam
melakukan aktivitas tersebut.

c. Manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi, ini berarti setiap manusia
memikul amanah untuk menjadi seorang pemimpin. Salah satu
konsekuensi dari hal ini adalah bahwa kita dituntut untuk berilmu (tidak
bodoh) sehingga diharapkan dapat menjelaskan fenomena di bumi ini
dengan kebenaran yang ilmiah sebagai bukti kekuasaan Allah, dan bukan
menjelaskan suatu kejadian dengan mengkaitkannya dengan hal-hal
yang berbau takhyul yang dapat membawa kita kepada kesyirikan.
Contoh sederhana, adalah bagaimana kita dapat menjelaskan proses
terjadinya kilat/petir yang diawali dengan bertemunya muatan-muatan
listrik yang berbeda (positif dan negatif), bukan malah mengkaitkannya
dengan hal2 syirik tadi.

2. Allah sebagai Rabb, Zat yang memberi rizki (Al Raazaq)
Meyakini bahwa Allah adalah Rabb yang memberi rizki kepada kita berarti
tidak ada kekhawatiran terhadap rizki yang akan kita terima, karena Allah telah
mengatur semuanya. Rizki ini tentunya didapat dengan do’a dan ikhtiyar yang
sungguh-sungguh. Pernah suatu ketika di siang hari shahabat Umar ra melihat
seorang shahabat sedang berdo’a lama di masjid. Oleh Umar ra, shahabat tadi
ditendang dan beliau berkata bahwa di masjid bukanlah tempat mencari rizki.
Dari hal ini kita dapat mengambil hikmah bahwa antara do’a dan usaha harus
dilakukan secara seimbang tanpa mengabaikan salah satunya. Dan apapun yang
kita terima sebagai hasil doa dan ikhtiyar tadi, harus kita syukuri sebagai nikmat
dari Allah SWT, dan diharapkan dapat mengambil hikmah atas segala nikmat
yang kita terima.
Dikisahkan pula, bahwa Rasulullah sangat mengetahui dan mengerti
kekuatan dan kelemahan para shahabat beliau. Oleh karena itu, pada saat
penyebaran Islam, dan diperlukan seorang gubernur untuk memimpin
pemerintahan suatu daerah penyebaran Islam pada waktu itu, beliau tidak
pernah menunjuk shahabat Abudzar Al Ghifary ra sebagai gubernur. Beliau
menjelaskan kepada Abudzar bahwa hikmah dari ini semua adalah bahwa
Abudzar akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat bila hidup sederhana.
Dapatlah kita mengambil hikmah dari kisah tersebut. Mungkin saja bila kita
diberi rizki sebagai seorang yang kaya, yang tadinya selalu rajin sholat lima
waktu, bahkan sering kelupaan.

3. Allah sebagai Rabb, Zat pemilik segala sesuatu (Al Maalik)

Meyakini bahwa Allah adalah sebagai Rabb, Zat yang memiliki segala
sesuatu, berarti bahwa kepemilikan dan penguasaan kita terhadap materi/benda
hanya sebatas pada manfaat materi tersebut, jika melebihi asas manfaat ini,
berarti tergolong ke dalam orang-orang yang berlebihan. Dikisahkan, pada
zaman Rasulullah dan para shahabat, ada saat di mana perang Tabuk memang
tidak dapat ditunda-tunda lagi. Untuk itu diperlukan biaya yang besar, dan saat
itu kondisi baitul maal kosong. Pada saat itulah shahabat Abubakar ra
menyumbangkan hartanya untuk semua keperluan perang. Dari kisah ini, dapat
diambil hikmah bahwa, walaupun memiliki dan menyimpan harta yang besar,
harta tersebut janganlah sampai menguasai hati dan pikiran kita, dan tidak
mengurangi kecintaan kepada Allah.
Kecintaan terhadap suatu materi secara yang berlebihan membuat kita tidak
akan siap bila suatu saat Allah mengambil kembali materi tersebut dari kita, dan
dapat menimbulkan stress berkepanjangan.
Dengan meyakini bahwa semua yang ada di dunia seisinya adalah milik Allah,
hal-hal yang dapat diambil pelajaran adalah :
1. Sadar akan hakikat kepemilikan, dan tidak menjadikan apa yang
dimilikinya secara berlebihan.
2. Mengikuti aturan yang ditentukan oleh Allah dari apa yang kita miliki,
misalnya dalam bentuk infak. Ini sebagai wujud pengakuan kita bahwa
apa yang kita miliki adalah milik Allah, sehingga diperintahkan untuk
menggunakannya kepada jalan atau amal-amal kebaikan, seperti
dinyatakan dalam surat Ali Imran ayat 134:
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit,
dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”.

II. Allah sebagai Malik

Pada lanjutan surat An-Naas ayat 2 Allah berfirman:
“Raja manusia.”

Pengertian raja di sini berarti Yang Maha Menguasai makhluknya (dalam ayat ini
adalah manusia). Karena Allah sebagai Maha Penguasa, pada diri manusia
mempunyai dua konsekuensi:

1. Allah sebagai Haakiman (Hakim)
Allah sebagai sumber pemecah problem hidup dan pemutus perkara. Di
dalam surat Al-Maaidah ayat 44-50, Allah menerangkan satu persatu Kitabkitab
suci yang pernah Ia turunkan (Taurat, Injil dan Al-Qur’an). Pada tiap
kitab tersebut Allah memerintahkan bahwa kita, manusia, harus mengikuti
petunjuk (cahaya) Allah sesuai dengan kitab yang berlaku pada zamannya.
Al-Qur’an sebagai kitab terakhir dan yang paling sempurna harus dijadikan
sumber pemutus perkara dan pemecah problem hidup. Bila tidak
menggunakannya maka Allah menggolongkannya menjadi:
a. Kafir (tertutup)
b. Dzalim (melanggar ayat-ayat Allah), atau
c. Fasik (kafir setelah beriman).
Pada ayat 50 Allah bertanya, “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan
(hukum) siapakah yang lebih daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”
Pertanyaan tersebut memancing kita untuk merenungi apakah kita sudah
yakin bahwa hukum Allah adalah yang tertinggi dan yang terbaik bagi kita,
umat manusia.

2. Allah sebagai Waliyyan (Wali)
Wali/Amir berarti pemimpin, sandaran, dan backing kita. Sebagai pemimpin,
Allah adalah Sang Pemberi Perintah. Allah memerintahkan seluruh alam
semesta untuk bertasbih kepadanya. Allah juga memerintahkan kita untuk
beribadah (sholat, puasa, dsb). Sebagai sandaran, Allah adalah tempat kita
mengadu, tempat kita memohon, dan tempat kita meminta. Sebagai
backing, Allah adalah pelindung kita, tidak ada yang bisa melindungi kita dari
segala kejahatan dan kecelakaan selain Allah. Bila makna ini diselami begitu
dalam, maka akan tampil orang-orang yang begitu kuat izzahnya
(kebanggaan) terhadap Islam, percaya diri, tak kenal takut dan sangat loyal
pada Allah. Pada surat Al-Maaidah ayat 55-57 Allah menggambarkan bahwa
orang-orang yang mengambil Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman
sebagai wali pasti akan menang.

III. Allah sebagai Ilah
Dalam istilah (etimolog) Arab pengertian Ilah adalah :
– apa-apa yang digandrungi/diidolakan, sehingga mau/terlihat seperti
diperbudak, dan ditakuti.
– cinta yang mendalam (pangkalnya dari hati) sehingga menimbulkan rasa
takut kehilangan.
– apa-apa yang diikuti.
Di dalam ilmu psikolog, cinta memiliki arti: Titik perhatian, keindahan,
ketentraman, kesejukan, kedamaian dan kekaguman. Bila dikaitkan dengan
Islam, maka titik tersebut adalah kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi nereka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia,
mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergukan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka
mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan
mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah).
Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang
lalai. [QS. Al-A’raaf (7): 179]
Berdasarkan ayat di atas Jin & Manusia kebanyakan dimurkai Allah sehingga
masuk neraka Jahannam karena tidak menggunakan hati, mata & telinga untuk
bertadabbur kepada Allah.
Pada surah Al-Baqarah ayat 165 manusia digolongkan menjadi dua:
1. Cinta/bersandar kepada Allah
2. Cinta/bersandar kepada selain Allah (mencintai sesuatu melebihi cintanya
kepada Allah).
Pada sebagian besar orang membuat tandingan-tandingan Allah. Mereka lebih
mencintai sesuatu daripada Allah. Mereka lebih memilih artis idolanya yang
sedang ditayangkan di televisi berupa sinetron, acara musikal, dll dibandingkan
meluangkan waktu sejenak untuk shalat wajib. Mereka mengikuti dan meniruniru
trend yang digunakan idolanya padahal mereka tidak mengetahui ilmunya
(hukumnya).
Ilah bisa berwujud keluarga, jabatan, harta, atau apa saja, sehingga syaitan
seperti yang diterangkan pada An-Naas dengan mudah memasuki hati manusia.
Oleh karena itu, kunci dari manajemen qalbu adalah hati kita terikat secara
kokoh kepada Allah sehingga tidak ada Ilah lain selain Allah.

Nabi Ibrahim as diuji kecintaannya oleh Allah, yaitu ketika disuruh menyembelih
anaknya (waktu itu hanya semata wayang) yang amat dicintainya. Nabi tetap
melaksanakan perintah Allah karena kecintaan dan keyakinannya kepada Allah.
Allah sebagai Ilah memiliki dua konsekuensi bagi manusia:
1. Allah sebagai Ghoyah (tujuan)
Dalam hal ini, cukuplah kita mengingat kembali makna doa iftitah.
2. Allah sebagai Ma’budan (tempat menyembah)
Kepada Allahlah kita beribadah. Tulisan-tulisan sebelum ini rasanya sudah
cukup membahas tentang ibadah ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: