Ilmu, Amal, Ikhlas…. (WestCoast TeleHalaqah)

Menjauhi Dosa Besar

Rasulullah saw. bersabda:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ ” فَذَكَرَ مِنْهَا: الشِّرْكُ بِاللهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيْمِ وَأَكْلُ الرِّبَا وَالتَّوَلِّي يَوْمُ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصِنَاتِ الْغَافِلاَتِ الْمُؤْمِنَاتِ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Jauhilah kalian tujuh dosa besar; syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan cara yang benar, memakan harta anak yatim, memakan harta riba, lari dari medan perang, menuduh berzina terhadap wanita yang suci.” (Muttafaqun alaih)

Hadits ini adalah arahan Rasulullah saw. kepada kita untuk meraih kehidupan baik di dunia maupun di akhirat. Wasiat ini terkait dengan larangan-larangan Allah yang merupakan dosa besar. Larangan-larangan tersebut merupakan dasar yang sangat fundamental dan telah disepakati oleh seluruh agama samawi. Jika kesemua larangan tersebut dapat kita jauhi, maka akan tercipta kelangsungan hubungan harmonis kita dengan Allah swt., keluarga, dan masyarakat. Tercipta ketertiban dan keamanan lingkungan. Terjaga kesucian jiwa dan hati; baik pribadi, keluarga dan masyarakat dari segala kotoran batin dan raga, sehingga kebahagiaan di dunia dan di akhirat pun dapat dicapai.

Para ulama memberikan parameter tentang dosa besar yang harus dijauhi oleh umat Islam. Mereka menyebutkannya dengan tujuh dosa bersar, dengan alasan sabda Nabi saw.:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ ” فَذَكَرَ مِنْهَا: الشِّرْكُ بِاللهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيْمِ وَأَكْلُ الرِّبَا وَالتَّوَلِّي يَوْمُ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصِنَاتِ الْغَافِلاَتِ الْمُؤْمِنَاتِ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Jauhilah kalian tujuh dosa besar; syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan cara yang benar, memakan harta anak yatim, memakan harta riba, lari dari medan perang, menuduh berzina terhadap wanita yang suci.” (Muttafaqun alaih)

Disebutkannya hadits ini menunjukkan akan besarnya dosa orang yang melakukan perbuatan tersebut, sehingga pelakunya mendapat ganjaran di dunia dengan had seperti membunuh, zina dan mencuri, dan di akhirat mendapat ancaman azab atau murka, celaan atau laknat dari Allah. Dengan itu semua, umat manusia khususnya umat Islam harus segera menjauhi dan meninggalkan perbuatan dosa besar.

Dan pada awal dakwah, Rasulullah saw. sangat menekankan kepada para sahabatnya untuk segera meninggalkan perbuatan haram dan menjauhi dosa besar. Bahkan Rasulullah saw. menjadikan hal tersebut sebagai prasyarat dalam berbaiat untuk taat kepada Allah swt. dan Rasulullah saw.

Dalam surat Al-Mumtahanah ayat 12 Allah berfirman:

يَا َأيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لاَ يُشْرِكْنَ بِاللهِ شَيْئًا وَلاَ يَسْرِقْنَ وَلاَ يَزْنِيْنَ وَلاَ يَقْتُلْنَ أَوْلاَدَهُنَّ وَلاَ يَأْتِيْنَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِيْنَهُ بَيْنَ أَيْدِيْهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلاَ يَعْصِيْنَكَ فِي مَعْرُوْفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْلَهُنَّ اللهَ إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

“Wahai Nabi, jika datang kepadamu wanita-wanita beriman untuk berbaiat setia kepadamu agar tidak melakukan syirik kepada Allah dengan sesuatu, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka, dan tidak melakukan kejahatan yang dibuat-buat baik di hadapannya dan di bawah kakinya serta tidak memungkiri terhadap kebaikan, maka baiatlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang”. (Al-Mumtahanah: 12)

Makna dan hakikat dosa besar:

Sumber dosa:

Sumber dosa berasal dari dua hal, yaitu:

1. Meninggalkan perintah Allah swt.

2. Melanggar larangan Allah swt.

Manusia seakan bertabiat cenderung untuk berbuat dosa sejak manusia pertama, Adam a.s., melanggar larangan Allah swt. karena bisikan iblis –kecuali para Rasul yang maksum (terjaga dari dosa). Meskipun manusia cenderung berbuat dosa, Islam tidak mengenal dosa turunan. Karena setiap anak Adam lahir dalam keadaan fitrah dan suci. Dan Islam mengajarkan agar manusia selalu bertakwa dengan melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya. Tetapi kemudian manusia masih juga berbuat dosa karena kelemahannya, maka Allah swt. memberikan jalan-jalan penghapus dosa, dari mulai istighfar sampai kepada taubat nasuha.

Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak Adam pasti berbuat dosa, dan sebaik-baik pembuat dosa adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi,Hasan)

Bedanya Iblis dari Adam adalah Iblis melanggar perintah Allah swt. dan tidak bertaubat, sedangkan Adam melanggar larangan Allah swt. tapi menyadari dan bertaubat. Bahkan Rasulullah bersabda, “Kalau kalian tidak berbuat dosa niscaya Allah swt. akan mengganti kalian dengan kaum yang lain pembuat dosa, tetapi mereka beristighfar dan Allah mengampuni mereka.” (HR. Muslim)

Demikian nilai dosa itu. Kalau disadari akan menghantarkan manusia kepada ketaatan. Karena pendosa itu jiwanya selalu gelisah dan kegelisahan itu yang menghantarkan dia kembali kepada Allah swt. dengan bertaubat.

Berbeda dengan ahli bid`ah. Karena mereka merasa benar sehingga tidak terasa kalau dia berbuat dosa. Oleh karena itu Imam Sofyan Atstsani berkata, “Seorang tukang bid`ah itu lebih disukai oleh setan dari seribu pendosa.”

Suatu bangsa yang berlumuran dosa bisa menjerumuskannya ke jurang malapetaka sebagaimana terjadi dengan malapetaka yang menimpa bangsa-bangsa terdahulu. Apabila bangsa kita ingin terhindari dari malapetaka, maka segala bentuk dosa harus diupayakan untuk dijauhkan dari kehidupan masyarakat kita

Sebab-sebab manusia cenderung berbuat dosa dan bahaya perbuatan dosa

Sebagaimana orang senang berbuat kebajikan karena dorongan untuk memperoleh pahala dan balasan serta bertaubat positif dalam diri orang tersebut. Ada pula sebagaian orang cenderung berbuat dosa. Hal ini karena beberapa sebab seperti berikut ini:

1. Karena dia lupa kepada Allah swt.

Karena lupa bahwa Allah Maha Melihat dan Menyaksikan, membuat seseorang merasa tidak mendapat penghalang dalam dirinya untuk melakukan perbuatan dosa demi meraih kesenangan sesaat. Maka dari itu, kalau dia sadar Allah swt. memperhatikannya, niscaya dia akan malu melakukannya karena merasa diperhatikan Allah swt. Itulah sebabnya kenapa orang cenderung bersembunyi ketika melakukan maksiat. Allah swt. Mengingatkan lepada kita, jangan lupa kepada Allah swt. (Al Hasyr: 19).

2. Karena dia lupa bahwa Allah swt. yang telah mengkaruniai segala sesuatu kepadanya

Seharusnya manusia berterima kasih melalui ketaatan-ketaatan yang dilakukan untuk-Nya. Tapi, manusia justru melakukan yang sebaliknya: memakai semua yang dikaruniai Allah untuk melanggar larangan-Nya. Hal itu seperti pernah disebutkan oleh Nabi Zakaria kepada Bani Israil; Bagaimana kalau kalian mempunyai budak atau pegawai yang kalian penuhi segala kebutuhannya ternyata dia menyeleweng dan bekerja untuk orang lain. Tentu hal itu tidak wajar dan tidak pantas serta layak diskors atau dihukum. Padahal, nikmat yang diberikan Allah kepada hamba-Nya tidak terhitung banyaknya. (Ibrahim: 34)

3. Karena dia lupa kalau Allah swt. itu selain Maha Pengasih juga keras siksaan-Nya

Banyak pendosa ketika diingatkan agar berhenti dari maksiatnya serta merta dia menjawab Allah swt. itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang dengan tetap terus bermaksiat ria. Padahal selain memiliki sifat tersebut, Allah juga memiliki sifat Maha Keras azabnya. (Al Maidah: 98)

4. Bahwa setiap perbuatan manusia ada catatan yang ditulis oleh malaikat

Catatan malaikat ini sebagai bukti baik-buruknya seluruh perbuatan manusia (Qaf: 17-18). Tidak ada satupun perbuatan kita yang terlepas dari catatan malaikat. Bahkan di hari akhirat kelak seluruh anggota tubuh kita akan bersaksi: lidah, tangan, kaki, dan lain-lain (An-nur: 4). Kalau orang merasa bahwa dia telah dijasai, diperhatikan dan bahkan dihadapkan kepada ancaman, niscaya dia akan berhati-hati untuk tidak terjerumus ke dalam kubangan dosa yang berakibat sangat fatal di dunia dan apalagi di akhirat.

Macam-macam dosa besar

Terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama tentang jumlah macam-macam dosa besar itu. Ada yang mengatakan 3, ada yang mengatakan 7, ada pula 9 dan ada pula 70 sampai ada 300 macam.

Di antaranya disebutkan Rasulullah saw. seperti yang di riwayatkan oleh Imam Muslim, syirik kepada Allah, membunuh anak karena takut miskin, men-zinai istri tetangga, durhaka terhadap kedua orang tua, bersaksi bohong, membunuh, bermain sihir, dan memakan harta anak yatim.

Adapun secara garis macam dosa besar yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1. Menyekutukan Allah

Yaitu dengan menjadikan selain Allah sebagai tandingan dan sekutu dalam segala hal dan sekecil apapun. Ini termaktub dalam ayat di atas: “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia.” Seluruh manusia harus mengakui bahwa Allah adalah Esa. Tidak ada sesuatupun yang patut disembah, diminta pertolongan dan dipatuhi kecuali Allah swt. Kadang masyarakat kita tidak sadar melakukan sesuatu yang menyimpang dalam berdoa dan memohon kepada Allah. Bahkan ada di antara mereka, karena begitu lama hidup dalam kesulitan dan kemiskinan lalu lari ke kuburan, tempat-tempat keramat dan perdukunan agar diberikan jalan hidup yang lebih baik.

Syirik terbagi dua bagian: syirik akbar dan syirik ashgar. Masing-masing memiliki dua bagian: dzahirun jali (yang tampak nyata) dan bathinun khafi (yang samar tersembunyi). Adapun maksud dari syirik akbar adalah menjadikan sekutu bagi Allah dalam melakukan sesuatu perbuatan yang seharusnya perbuatan itu hanya ditujukan kepada Allah, seperti menjadikan tuhan-tuhan lain bersama Allah, baik secara terang-terangan dengan mentaati, menyembah, memohon pertolongan selain kepada Allah, dan tersembunyi, seperti sifat sombong, takabbur dan ujub, yang kesemua hal tersebut merupakan bagian syirik yang tersembunyi, sebagainana dijelaskan oleh Rasulullah saw bahwa Allah swt. tidak akan memasukkan seorang hamba kedalam surga apabila di dalam hatinya ada sebesar atom (biji sawi) dari sifat takabbur. Atau bersumpah dan bernadzar kepada selain Allah. “Kemusyrikan lebih samar ketimbang derap langkah semut di atas batu hitam di malam yang gelap gulita.” Adapun yang dimaksud dengan syirik kecil adalah menganggap sesuatu benda memiliki kekuatan gaib, seperti memakai kalung dan benang sebagai jimat, peramal, dukun atau tenung dan guna-guna.

Kedua bagian dari syirik tersebut di atas merupakan dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah swt. Seperti yang telah difirmankan dalam surat An-Nisa ayat 116: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukkan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukkan (sesuatu) dengan Allah, maka ia telah tersesat sajauh-jauhnya.”

Juga sama halnya dengan mengundi nasib, meramal, dan sejenisnya. Nasib adalah perkara gaib yang tidak diketahui, kecuali oleh Allah. Para peramal itu hanya menerka-nerka dan sebagian meneruskan bisikan setan kepadanya. Sesuatu yang bersifat spekulatif kadang-kadang memang mengena, tetapi itu tetap tidak mengubah statusnya dari hal yang spekulatif. Ramalan bintang, shio, membaca telapak tangan, kartu tarot, dan sejenisnya merupakan variasi bentuk dari meramal dan mengundi nasib. Bentuk berbeda, tetapi hakikatnya sama. Jadi semua dosa kemungkinan dapat diampuni oleh Allah swt. kecuali syirik. Sebab, syirik merupakan pangkal segala kejahatan dan sumber dosa yang dilakukan manusia. Orang musyrik sama dengan orang yang mengingkari keberadaan Allah swt.

2. Sihir

Sihir adalah perbuatan setan yang disampaikan kepada manusia sehingga dirinya merasa punya kekuatan, menetahui yang ghaib dan lain sebagainya. Setan mengajarkan sihir untuk menyesatkan pelaku dan umat manusia, sehingga orang yang melihat sihir seakan suatu kebenaran.

Sebagaimana firman Allah:

وَاتَّبَعُوْا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِيْنُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِيْنُ كَفَرُوا يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْرَ

“Dan ikutilah apa yang dibacakan oleh setan atas kerajaan Sulaiman, padahal Sulaiman tidak ingkar (kepada Allah) namun setanlah yang ingkar, mereka mengajarkan kepada manusia sihir.” (Al-Baqarah: 102)

Dalam keseharian banyak kita temui jenis-jenis sihir, baik dukun, santet, pelet, dan lain sebagainya. Dan apapun jenisnya sihir adalah bagian dari kafir dan dosa besar.

3. Membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan cara yang benar

Membunuh jiwa yang diharamkan kecuali karena ada sesuatu sebab yang benar. Seperti yang ditegaskan dalam firman Allah: “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Yaitu membunuh orang lain tanpa ada sebab dan alasan yang dibenarkan Islam seperti mempertahankan akidah dan jiwa dalam perang, qishas (membunuh pembunuh seseorang secara sengaja), membunuh orang yang murtad dan terang-terangan memusuhi Islam, dan berzina padahal sudah menikah. Rasulullah saw. pernah bersabda: “Tidak dihalalkan darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dan aku adalah Rasulullah melainkan dengan salah satu dari tiga sebab: pezina yang sudah menikah, jiwa dengan jiwa, dan orang yang meninggalkan agama serta memisahkan diri dari jama’ah.”

Dalam ayat lain Allah swt. banyak mengisyaratkan akan pelarangan tiga perkara; syirik, zina, dan membunuh jiwa saling beriringan. Ini karena ketiga hal tersebut merupakan tindak kriminal yang dikategorikan sebagai pembunuhan. Syirik misalnya dapat membunuh fitrah dan hati yang terdapat dalam diri manusia, zina dapat membunuh kehidupan sosial, sedangkan yang ketiga merupakan pembunuhan jiwa seseorang secara sengaja tanpa ada alasan yang dibenarkan.

Orang yang membunuh seseorang disebut pembunuh, fasiq, dzalim atau pendurhaka dan kafir. Sebagaimana disabdakan dalam hadits Rasulullah saw.: “Memaki-maki orang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekafiran.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ibnu majah)

Adapun ganjaran bagi orang yang membunuh adalah dosa besar, walaupun yang dibunuh adalah musuh Allah atau orang kafir yang memiliki ikatan perjanjian damai dengan negara Islam dan telah mendapatkan jaminan keamanan. Seperti yang disabdakan Rasulullah saw.: “Barangsiapa yang membunuh kafir mu’ahad (orang kafir yang tinggal di negeri yang terikat perjanjian damai dengan negara Islam), maka ia tidak akan dapat mencium bau surga. Ketahuilah bahwa bau surga itu dapat dicium dari jarak perjalanan empat puluh tahun. (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu majah)

Sedangkan ganjaran orang yang membunuh orang mukmin dengan sengaja, maka hukumannya adalah neraka Jahannam (An-Nisa: 93). Dalam hadits disabdakan: “Lenyapnya dunia ini lebih ringan menurut Allah daripada membunuh seorang mukmin tanpa adanya alasan yang benar.” (HR. Ibnu majah).

Dan yang termasuk membunuh yang dilarang Allah adalah membunuh anak yang telah diamanahkan Allah karena takut jatuh miskin dan melarat, karena Allah sendiri yang akan memberi rizki kepada mereka. Seperti yang telah difirmankan Allah, “Janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.”

Orang-orang Arab semasa jahiliyah biasa membunuh anak putrinya hidup-hidup. Sebagian di antara mereka ada yang didorong rasa cemburu, ada yang takut miskin, dan mayoritas melakukannya karena untuk menghindari rasa malu dan aib. Sehingga Allah menurunkan ayat yang melarang mereka membunuh anak, entah apa pun alasannya. Sebab Allah-lah yang menciptakan, memberi rezeki dan sudah menjamin bagi hamba-hamba-Nya segala kebutuhan hidupnya.

Ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw., “Apakah dosa yang paling besar?” Beliau menjawab, “Engkau menjadikan tandingan bagi Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu.“ Orang itu bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Engkau membunuh anakmu karena takut dia akan makan bersamamu.”

Larangan membunuh anak mengisyaratkan akan keuniversalan ajaran Islam dan keunikannya. Dimana setelah Allah menjabarkan hak orang tua dari anaknya dan kewajiban anak terhadap orang tua, Allah juga tidak mengesampingkan hak anak dari orang tuanya dan kewajiban orang tua terhadap anaknya. Keduanya harus saling beriringan dan sejalan, saling memberikan perhatian antara keduanya. Jangan sampai seorang bapak menuntut kepada anaknya untuk berbuat baik kepadanya sementara ia sendiri tidak melaksanakan kewajibannya sebagai seorang bapak terhadap anaknya: mendidik dan mengasuhnya serta membimbingnya dengan baik. Patut disadari bahwa bimbingan, arahan, dan didikan orang tua kepada anaknya akan mempengaruhi jiwa anak tersebut. Baik dan buruknya seorang anak bergantung pada didikan orang tuanya.

Tentunya pemenuhan kewajiban orang tua terhadap anaknya merupakan langkah pertama sebelum anak melakukan kewajibannya di hadapan orang tuanya untuk berbuat baik. Orang tua harus memelihara, memberi makan, mendidik dan mengasuh anaknya, dan memberi sesuatu yang terbaik kepadanya. Ketika semua kewajiban itu terpenuhi, maka orang tua berhak menuntut haknya dari si anak. Paling tidak sebagai imbalan atas pemenuhan kewajiban-kewajiban ini, orang tua berhak mendapat penghormatan, ketaatan, perlakuan baik, kasih sayang, dan perhatian yang mereka perlukan di hari tua.

4. Berbuat keji, baik secara terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi.

Hal ini diisyaratkan dalam firman-Nya: “Dan janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi.”

Para mufassirin menafsirkan maksud dari kalimat “al-fawahis” dengan segala bentuk kemungkaran dan kekejian. Ini berarti Allah melarang semua kemungkaran dan kekejian, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, agar manusia terjauhkan dari hal-hal yang kotor dan yang dapat menodai kehormatannya. Sebagian mufassirin lainnya mengartikan makna kalimat tersebut dengan zina, dan ditulis dalam bentuk jama’ (plural). Karena kemungkaran tersebut memiliki banyak pendahuluan yang dapat menarik kepada perbuatan keji tersebut, seperti tabarruj (buka-bukaan), ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan wanita), pacaran, pergaulan bebas, mengumbar senyum dan aurat, dan lain-lain yang menyebabkan orang terjerumus dalam perzinaan. Pendapat tersebut diperkuat dengan adanya kalimat “la taqrabu” (jangan mendekati). Karena langkah untuk mencegah terjadinya perbuatan tersebut adalah jangan sekali-kali mendekati perbuatan yang menjurus kepada perbuatan zina.

Adapun maksud dari kalimat “terang-terangan dan sembunyi-sembunyi” adalah bahwa segala kemungkaran dan kekejian haram hukumnya tanpa terkecuali baik yang dilakukan dengan terang-terangan dan sembunyi. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Beliau berkata, “Semasa jahiliyah mereka menganggap zina bukan dosa selagi dilakukan secara tersembunyi, dan mereka menganggapnya keburukan jika dilakukan terang-terangan dan terbuka.”

5. Memakan harta orang lain dan harta anak yatim dengan cara yang bathil

Allah swt. berfiman:

وَلاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“Dan janganlah kalian memakan harta sebagian dari kalian dengan bathil, kecuali melalui jual beli dan saling ridho.” (An-Nisa: 29)

وَلاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلىَ الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Dan janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang bathil, kalian mengambilnya melalui hakim (pengadilan) agar kalian dapat memakan harta sekelompok manusia dengan dosa sedangkan kalian mengetahui.” (Al-Baqarah: 188)

إِنَّ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُوْنَ فِي بُطُوْنِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيْرًا

“Sesungguhnya orang yang memakan harta anak yatim dengan cara zhalim, mereka memasukkan api neraka dalam perut mereka, dan mereka akan dimasukkan ke dalam neraka sa’ir.” (An-Nisa: 10)

وَآتُوا الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ وَلاَ تَتَبَدَّوُاالْخَبِيْثَ بِالطَّيِّبِ وَلاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلىَ أَمْوَالِكُمْ إِنَّهُ كَانَ حُوْبًا كَبِيْرًا

“Dan ambillah harta anak yatim (dengan cara yang baik) dan janganlah kamu ganti keburukan dengan kebaikan, dan janganlah kamu memakan harta mereka seperti harta kamu sendiri, karena sesungghnya yang demikian itu adalah merupakan dosa yang besar.” (An-Nisa: 2)

6. Memakan harta riba

Allah berfirman, “Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian disebabkan mereka berkata bahwa sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah datang kepadanya larangan dari Tuhannya, kemudian ia berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum turun larangan) dan urusannya (terserahkan) kepada Allah. Dan barangsiapa yang mengulangi (mengambil riba), maka mereka itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekufuran dan selalu berbuat dosa.” (Al-Baqarah: 275-276)

Riba itu ada dua macam: nasi-ah dan fadhl. Riba nasi-ah ialah pembayaran yang dilakukan oleh yang berhutang kepada yang memberi utang melebihi jumlah hutang. Riba fadhl adalah penukaran suatu barang dengan barang sejenis, tetapi yang satu lebih banyak kadar atau jumlahnya dari yang lain, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi dan sebagainya.

Riba adalah masalah yang selalu muncul di setiap generasi sejarah kehidupan manusia. Bahaya riba yang sangat memberatkan bagi kaum lemah menjadi momok yang sangat menakutkan. Yang tentu saja menjadikan kaum lemah akan tetap dalam kemiskinan dan kesulitan. Disamping itu, memang ada pihak yang diuntungkan secara finansial oleh riba. Keuntungan-keuntungan inilah yang membuat orang yang telah merasa kesenangan mendapatkan harta riba, sulit untuk meninggalkannya. Kesenangan yang harus didapat dengan mengabaikan kesulitan saudaranya. Kesenangan yang tentunya harus mengabaikan jiwa tolong-menolong antar-sesama. Yang tersisa hanya keinginan mendapatkan keuntungan di atas kesulitan dan penderitaan orang lain.

Negara kita sekarang sedang mengalami bagaimana beratnya tekanan dililit oleh utang yang merupakan riba. Bahkan, untuk membayar bunganya saja, negara yang kaya ini hampir tidak mampu, apalagi hutang pokoknya. Memang riba selalu membuat orang yang berhutang mengalami kesulitan tiada henti selama ia tidak berhenti dari riba. Walaupun ada yang kaya karena riba, kekayaan itu adalah kekayaan semu yang rapuh pondasinya. Bagaimana dapat kita saksikan, ketika krisis mulai melanda negeri ini, banyak konglomerat yang rontok habis. Dulunya mereka kelihatan gagah dan kokoh, tetapi begitu catatan hutang dipaparkan, semua kejayaan semu itu langsung menguap tak berbekas.

Dengan melibatkan diri dalam hutang dengan sistem riba, secara tak sadar kita telah menjual negara kita ini sedikit demi sedikit kepada orang asing, sementara kita bersikap masa bodoh dengan kekayaan yang Allah anugerahkan kepada kita. Bahkan, kita biarkan orang asing menggarapnya dengan pembagian yang tidak adil dan tidak rata.

Dalam menyikapi riba ada dua macam manusia: yang menerima dan yang menolak. Yang menerima biasanya beralasan seperti yang diungkapkan ayat di atas, bahwa mereka menyamakan antara riba dengan jual beli. Padahal, Allah telah menghalalkan jual beli dan telah mengharamkan riba. Mereka yang tetap mengambil dan memakan riba setelah jelas haramnya adalah orang-orang yang membangkang dan melanggar perintah Allah. Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang kerasukan setan, berdiri tidak kokoh dan gontai serta linglung. Adapun orang yang menolak riba setelah diharamkan oleh Allah, maka mereka itu terbagi kepada dua kelompok, yaitu kelompok yang meninggalkan riba dan menyadari dosanya serta tak mau kembali terjerumus ke dalam kubangan riba. Yang kedua orang yang sadar sesaat setelah jelas haramnya riba, namun ia kemudian kembali terjerumus ke dalam riba. Orang yang bersikap demikianlah yang mendapat ancaman dari Allah dengan siksa neraka dan bahwa mereka kekal di dalamnya. Karena menolak hukum Allah yang nyata adalah suatu kekufuran, dan orang kafir kekal di neraka.

Tentunya sikap muslim dan mukmin sejati adalah meninggalkan riba secara total setelah jelas keharamannya, dan tidak kembali lagi melakukannya setelah itu. Karena meninggalkan total suatu larangan merupakan wujud dari kesungguhan, sedangkan bersikap angin-anginan merupakan bukti ketidakseriusan dan main-main.

Selanjutnya Allah menerangkan bahwa Dia menyuburkan sadaqah, dengan pengertian yang sangat luas, termasuk menambah rezeki orang yang bersedekah dan pahala yang berlipat ganda baginya, memberi berkah pada sadaqahnya itu sehingga bermanfaat dengan baik. Sadaqah juga melanggengkan silaturahmi dan hubungan antar manusia, menumbuhkan jiwa tolong-menolong dan kepedulian akan kepedihan orang lain, dan masih banyak lagi hal-hal positif dari sadaqah.

Sementara riba, maka Allah akan memusnahkannya dengan pengertian hilangnya berkah darinya, merenggangkan tali silaturahmi dan bahkan memutuskannya. Mengeraskan hati sehingga tidak peduli nasib orang lain, menumbuhkan kesombongan dan keangkuhan serta membiasakan diri mempersulit orang yang dalam kesulitan, dan lain-lain. Semua itu adalah perkara-perkara yang akan membawa pada kehancuran dan kebinasaan.

Islam mempunyai prinsip tolong menolong dalam memberikan hutang kepada sesama manusia. Adalah tidak bijaksana memaksakan orang yang sedang kesulitan untuk memberi keuntungan kepada kita. Bahkan, belum tentu dengan uang hutang itu dia bisa mencukupi kebutuhan dirinya sendiri. Jika seseorang yang berhutang dalam kesulitan pada saat jatuh tempo, Islam menganjurkan untuk memberi tenggang waktu sampai dia berada dalam kemudahan untuk melunasi hutangnya itu. Bahkan, yang lebih baik adalah dengan menyedekahkan hutang itu kepadanya jika diketahui bahwa dia memang tidak mampu mengembalikannya, karena dengan demikian ia telah memberinya kemudahan. Dan barangsiapa yang memudahkan urusan saudaranya niscaya Allah akan memudahkan urusannya, di dunia maupun di akhirat.

7. Lari dari medan perang

8. Zina

Allah berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Israa’: 32)

Membaca, memahami, dan merenungkan ayat ini, kemudian melihat kenyataan dalam hidup masyarakat kita saat ini sungguh akan membuat kita merinding dan malu. Bagaimana tidak? Salah satu dosa besar yang dimurkai Allah telah menjadi hal yang biasa dilakukan sebagian masyarakat kita tanpa malu-malu dan rasa takut. Segala pintu dan sarana pendukung menuju ke arah perbuatan zina tersebar luas dengan sangat leluasa tanpa hambatan yang berarti.

Alat propaganda zina demikian luas jaringan dan jangkauannya, ditambah lagi dengan harga yang murah: mulai dari koran harian, mingguan, tabloid, majalah, tayangan televisi, vcd-vcd nista yang berhamburan di pasar-pasar terbuka, yang kesemuanya itu dapat diakses oleh siapa pun juga. Protes-protes dan demonstrasi yang sering terjadi yang menentang hal-hal seperti ini hanya ditanggapi dingin oleh pemerintah beserta aparat berwenang. Mereka lebih sibuk mengurus diri mereka sendiri. Mereka siap menggadaikan moral bangsa ini dengan segepok dolar atau sedikit julukan modern.

Bahkan, iklan-iklan yang menyerukan masyarakat untuk menghindari AIDS pun tidak kalah hebatnya dalam melegalkan perzinaan. Bukannya melarang dan mencegah orang dari zina agar terhindar dari AIDS, malah dengan gayanya secara tidak langsung telah mengatakan silahkan berzina tapi pakailah kondom. Apakah kondom memang dapat mencegah AIDS? Tidak, ada sebagian dokter yang telah meneliti mengatakan bahwa ternyata pori-pori kondom jauh lebih besar dari virus HIV. Hal ini hanya dapat dilihat dengan alat khusus. Hanya satu cara aman dari AIDS, yaitu hindari dan jauhi zina.

Ayat di atas melarang kita untuk mendekati zina. Artinya, segala hal yang merupakan jalan menuju perzinaan harus kita jauhi, apalagi zinanya sendiri, tentunya lebih wajib kita jauhi. Perlu juga kita sadari bahwa segala keterbukaan dan kebebasan yang salah kaprah ini pasti menimbulkan akibat yang tidak ringan pada masyarakat kita. Suatu keburukan akan lebih cepat menular dibanding kebaikan. Sudah sangat banyak terjadi pelecehan seksual terhadap anak-anak, remaja, dan wanita dewasa yang merupakan dampak dari nafsu birahi yang terpancing oleh segala hal-hal yang menggiring orang untuk berzina. Betapa banyak rumah tangga yang hancur berantakan gara-gara zina yang tidak hanya mengorbankan suami istri tetapi juga anak-anak mereka. Korban-korban perkosaan dan pelecehan akan membawa aib seumur hidup, sementara pelakunya hanya dihukum dalam hitungan tahun atau bulan yang ringan.

Banyak sekali keburukan dan kerugian zina, baik secara materi, psikologi, agama, moral, sosial, dan keluarga, serta lain-lainnya. Masalahnya sekarang, apakah kita mau belajar dari peristiwa-peristiwa yang telah lalu untuk menghindari zina? Bukankah Allah telah menghalalkan pernikahan? Bahkan, dihalalkan menikah sampai empat orang istri? Tetapi anehnya kebanyakan masyarakat kita justru memandang jelek terhadap orang yang berpoligami, dan memandang orang yang berzina, melacur, dan sejenisnya biasa-biasa saja seakan-akan hal itu halal-halal saja. Kita harus segera introspeksi diri dan taubat sebelum Allah menurunkan azab-Nya. Sekarang memang sudah serba terbalik. Yang haram dianggap halal dan yang halal dianggap haram. Na’uudzu billah!

9. Menuduh wanita yang suci melakukan zina

Selain perzinaan yang dilarang Allah, juga kita diperintahkan untuk menjauhi diri dari menuduh orang lain melakukan perzinaan tanpa bukti yang cukup dan jelas.

Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (An-Nuur: 19).

Ayat ini adalah sebagian dari ayat yang mengisahkan tentang peristiwa yang sempat menjadi angin kencang dalam bahtera kehidupan rumah tangga Nabi Muhammad saw. Fitnah keji yang disebarkan oleh orang-orang munafik di kalangan kaum muslimin ketika itu, mengguncang hebat kehidupan Nabi saw. Maka turunlah ayat-ayat surat an-Nuur ini untuk menyatakan bersihnya ‘Aisyah r.a. dari semua fitnah keji itu. Kaum muslimin yang lalai dalam hal ini diperingatkan oleh Allah agar tidak mengulangi perbuatan yang sama, dan bahwa perkara ini bukanlah perkara enteng yang tak bermakna. Perkara ini adalah perkara besar yang akan merusak kehormatan dan kemuliaan Nabi saw. sebagai pembawa risalah. Tentu saja jika hal itu terjadi akan mempengaruhi penyampaian risalah dan dakwah yang diemban oleh beliau saw.

Orang-orang munafik yang menyebarkan fitnahan ini pasti akan Allah balas dengan siksaan yang pedih di dunia maupun di akhirat. Allah juga mewanti-wanti kaum muslimin agar berhati-hati terhadap mereka. Selanjutnya, Allah dalam ayat yang kita kaji kali ini menerangkan akibat dari orang-orang yang ingin kekejian tersebar di kalangan kaum muslimin, bahwa mereka akan disiksa di dunia dan di akhirat dengan siksaan yang pedih. Ini sekaligus ancaman bagi yang belum berbuat agar tidak berbuat fitnahan dan kekejian serta tidak menyebarkannya. Jika kekejian ini tersebar di masyarakat, banyak yang akan hancur, baik moral, tatanan sosial, garis keturunan, iman, dan sebagainya. Kalau Allah sudah mengancam orang yang memfitnah Ummul Mu’minin ‘Aisyah r.a. dengan azab yang pedih, bagaimana kiranya ancaman Allah dan siksa-Nya terhadap orang yang telah menyebarkan kekejian dan kenistaan itu dengan tindak nyata di kalangan kaum muslimin?

Selanjutnya mari kita melihat ke dalam masyarakat kita sekarang ini. Sungguh menyedihkan, kekejian ini mulai dan bahkan sudah dianggap hal biasa. Perzinaan terjadi di mana-mana, gambar-gambar para penjual tubuh bertebaran di sana-sini, cerita-cerita kotor dipublikasikan lewat media-media, film-film “binatang” disebarkan dengan harga murah tanpa mengenal rasa malu. Parahnya, pemerintah dan aparat berwenang yang seharusnya mengatasi hal ini cuma diam dan berpangku tangan. Paling sekali-sekali mereka mengadakan pemberantasan semu yang tak berdampak apa-apa. Para pemodal, pembuat, pengedar, dan segala pihak yang terkait dalam masalah ini begitu ingin hal keji dan kotor ini semakin tersebar di kaum muslimin. Mereka menikmati keuntungan-keuntungan haram dari rusaknya bangsa dan kaum muslimin. Mereka ini pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal, entah sekarang atau nanti di akhirat.

Ironisnya, kebanyakan mereka juga notabene beragama Islam, mereka tidak mengerti Islam dengan benar, iman mereka mudah dikikis oleh kilauan dunia yang fana. Mereka jauh lebih buas dari pada binatang sekalipun. Bukankah dengan perbuatan mereka itu mereka telah mengorbankan orang banyak untuk segelintir harta yang cepat habis.

Sekarang, kita sebagai kaum muslimin harus bertindak dengan seksama dan membentengi diri, keluarga dan masyarakat kita dengan iman dan tindak nyata dalam memberantas penyakit ini, jangan dibiarkan semakin akut, baru bertindak. Bertawakallah dan mohonlah pertolongan Allah dalam memberantas kenistaan ini, untuk kemudian dapat menegakkan panji-panji dan hukum-Nya di muka bumi ini. Allahu Akbar!

10. Miras, Judi, Berhala dan Mengundi Nasib

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (minum) khamr, berjudi, (menyembah) berhala, mengundi nasib adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu dengan khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan dari salat; maka berhentilah kamu (melakukannya).” (Al-Maidah: 90–91)

Maraknya produksi dan penjualan minuman keras di negara kita sekarang ini sudah sangat mengkhawatirkan. Hal ini sepertinya ingin mempertegas bahwa bangsa kita sedang dalam proses menjadi sebuah bangsa yang teler. Ditambah lagi dengan membanjirnya produk-produk luar negeri, bahkan sedikit demi sedikit mulai dijual bebas. Belum lagi masalah narkoba yang sulit ditanggulangi, juga menjadi masalah yang semakin bertambah setiap harinya.

Korbannya tak hanya orang dewasa, tetapi juga pemuda, dan bahkan anak-anak. Bahayanya? O, banyak sekali. Dapatkah Anda membayangkan apa yang akan dilakukan oleh orang yang sudah kehilangan akal dan kontrol diri? Banyak hal tak terduga yang akan dilakukannya tanpa beban sedikit pun. Mulai dari merusak rumah tangga sendiri, membunuh, merampok, menodong, dan lain sebagainya. Otomatis seseorang akan terhalang dari shalat dan mengingat Allah jika berada dalam keadaan teler dan mabuk. Inilah yang memang diinginkan setan.

Keyakinan bodoh pengkonsumsi miras bahwa stress bisa hilang, beban pikiran bisa terbang dengan minuman keras, kadang dijadikan suatu alasan untuk membenarkan perbuatannya. Belum lagi alasan-alasan lain yang dibuat-buat. Lebih mengherankan lagi adalah apa yang melandasi pemerintah memberi izin merek tertentu, orang tertentu atau perusahaan tertentu untuk memproduksi, mengimpor, dan menjual minuman keras. Apakah ada survei bahwa bangsa ini sedang membutuhkan minuman keras? Atau mungkin mereka sendiri yang membutuhkannya, lalu melegalkannya untuk memenuhi selera mereka? Wallahu a’lam.

Penyakit lain adalah judi. Mental-mental judi jika sudah merasuki jiwa seseorang niscaya akan merusak jiwa dan akalnya. Melegalisasikan perjudian dengan melakukan lokalisasi di wilayah tertentu bukanlah solusi yang tepat. Dulu ada yang namanya SDSB. Tetapi, ternyata para penjudi itu tidak hanya puas dengan SDSB. Banyak cara-cara judi yang tak masuk akal yang mereka lakukan. Contohnya, dua pihak yang berjudi sama-sama makan sepotong kecil tebu, setelah itu mereka lemparkan. Nah, ampas siapa yang lebih dulu dihinggapi oleh lalat, maka dialah yang menang. Ironinya, mereka rata-rata adalah orang-orang kurang mampu. Kebanyakan mereka hanya penjual sayuran atau rempah-rempah di pasar mingguan, petani kecil, tukang bendi, dan sejenisnya. Sebenarnya hanya ada satu kata untuk miras dan judi, yaitu “perang”.

11. Dusta dan bohong

Dalam Alquran kalau kita perhatikan kalimat al-kadzibu, maka kita temukan dalam bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan wazannya, seperti Kaadzibu, Kadzaab, Al-Mukadzibuun, Al-Mukadzibiin, Kadzaaba, Kadzaabat, Makdzuub, Takdziib, Kdazzabuu. Ini semua sesuai dengan ayat dan bentuknya.

Kebohongan atau sifat dusta adalah suatu sifat yang timbul dari sebab beberapa faktor yang ada, antara lain:

· Lemah jiwa dan mentalnya.

· Kegoncangan jiwa.

· Senang dengan perhatian manusia atau pandangan manusia.

· Suka bergurau atau bercanda yang berlebihan.

· Rasa dengki dan iri yang ada.

· Lingkungan yang buruk dan berpengaruh padanya.

Dalam Alquran Allah banyak mengingatkan tentang hal ini, bahkan memberi julukan kepada mereka yang dusta dengan berbagai julukan yang ada:

1. Al-Mujrimuun

“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya Sesungguhnya tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa.” (Yunus: 17)

2. Al-Kafiruun

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir.” (Al-Ankabut: 68)

3. Al-Asyqaa

“yang mendustakan (kebenaran) dan (berpaling) dari iman.” (Al-Lail: 16)

4. Al-Mu’tad

“Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu, melainkan setiap orang yang melampui batas.” (Al-Muthaffifin: 12)

5. Adz-Dzalimuun

“Maka barangsiapa mengada-adakan dusta terhadap Allah sesudah itu, maka merekalah orang-orang yang zalim.” (Ali Imran: 94)

6. Al-Aatsimuun

“Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka).” (An-Nisaa’: 50)

7. Al-Muftaruun

“Apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah pada hari kiamat Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).” (Yunus: 60)

8. Al-Munafiquun

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: ‘Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.’ Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (Al-Munafiquun: 1)

9. Al-Musrifun

“Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata, ‘Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah” padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu, dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.” Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Ghafir: 28)

Kalau kita perhatikan dari ayat-ayat di atas, kata Kadzibu bisa bermakna dusta atau bohong dan bisa bermakna ingkar, yaitu penolakan pendustaan. Dan setiap keadaan pelaku akan dihukum sesuai dengan apa yang didustakannya atau apa yang dijadikan kebohongannya.

Pada dasarnya setiap hukum kebohongan mempunyai dosa dan resiko sesuai dengan tingkat kebohonganya itu. Seperti dusta atas nama Allah dan Nabi-Nya, dusta dalam kehidupan dan lain-lain.

Dan seseorang apabila dia berdusta atau berbohong, maka pada dasarnya dia harus siap berbuat kebohongan yang lainnya untuk menutupi kebohongan yang pertama. Dan biasanya kebohongan memang harus bersambung atau sampai seorang itu mau menyelesaikan kebohongannya dengan mangaku dan menutup dengan taubat atau minta maaf kalau hal itu bersangutan dengan manusia. Dan banyak di antara kita yang hampir tidak memperhatikan hal ini, bahkan ada yang beranggapan kalau bohong sedikit tidak apa-apa atau tidak dosa. Artinya bohong yang diluar syar’i. Dan Nabi saw. mengancam keras bagi orang yang bohong atau dusta apa lagi mengatasnamakan beliau. Dalam riwayat Muslim dari Samura r.a., sesungguhnya Nabi saw. berkata, “Barangsiapa yang berbicara tentang aku, dengan suatu hadis yang hal itu sebenarnya dusta, maka orang itu dikatakan pendusta.”

Bohong yang secara syar’i dibolehkan dalam tiga kondisi:

1. Bohong dalam medan Perang atau jihad atau peperangan menghadapi musuh, yaitu yang kita kenal sekarang dengan istilah taktik atau strategi. Hal ini pernah dilakukan oleh Ali r.a. dalam perang tanding satu lawan satu dengan jagonya kafir quraisy yang berpengalaman. Singkatnya, ketika dia berhadapan dengan Ali r.a., maka Ali r.a. menoleh kesamping musuhnya (seolah-oleh orang itu ada kawannya), ketika orang itu menoleh kesamping langsung Ali r.a. membelah kepala musuh itu. Dan dalam hadis sahih dikatakan “Al-Harbu Khud’ah” (perang itu tipu daya).

2. Bohong untuk Islah atau memperbaiki hubungan dua orang yang sedang marah atau bermusuhan.

3. Bohong yang dalam urusan suami istri.

Dalam Riyadhus Sholihin, Imam Nawawi membawakan dalil dari Ummu Kultsum, dari Nabi saw. bersabda, “Tidaklah dikatakan Al-Kadzibu orang yang mengishlah antara manusia, dan dia berkata baik pada kedua belah pihak.” Hadis Bukhari no. 2692 atau Muslim no. 2605, dalam riwayat Muslim berkata, Ummu kultsum diberi keringanan tentang apa yang diucapkan manusia dalam tiga hal, yaitu dalam perang, ishlah antara manusia, dan ucapan seorang suami pada istrinya, dan istri pada suaminya.”

Dari sini jelas bahwa kebohongan yang bukan dasar syar’i, hendaknya kita hindari dan jauhi. Karena, hal ini memang sangat diancam dan dibenci oleh Allah dan RasulNya.

Dalam suatu riwayat Nabi saw. pernah ditanya, “Apakah seorang mukmin bisa penakut?” Nabi saw. menjawab, ” Ya, seorang mukmin mungkin saja dia penakut.” Apakah seorang mukmin bakhil, pelit? “Ya, seorang mukmin mungkin bisa pelit.” Apakah seorang mukmin dusta atau pembohong? Nabi saw. Menjawab, “Tidak!” (HR. Malik)

Dan sebagaimana kita ketahui bahwa bohong adalah salah satu dari tanda-tanda munafik. Sebagaimana hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a., sesungguhnya Nabi saw. Bersabda, “Tanda seorang munafik ada tiga: kalau berbicara bohong, kalau berjanji ingkar, dan kalau diberi amanah (kepercayaan) khianat.”

Dan dalam riwayat Ahmad Nabi saw. Bersabda, “Sungguh suatu pengkhianatan yang besar apabila kamu bicara pada saudaramu dan dia membenarkan kamu, padahal kamu dusta.” (HR. Abu Daud)

Bahaya yang ditimbulkan dari dosa besar

Allah berfirman, “Maka masing-masing (mereka itu) kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang di timpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka kami benamkan ke dalam bumi dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan; dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Al-Ankabut: 40)

Adapun bahaya yang ditimbulkan oleh maksiat atau perbuatan dosa itu seperti di sebutkan oleh Ibnu Qoyyim rahimullah, sebagai berikut:

1. Terhalangnya ilmu agama karena ilmu itu cahaya yang diberikan Allah di dalam hati, dan maksiat mematikan itu.

2. Terhalangnya rezeki, seperti dalam hadits riwayat Imam Ahmad, “Seorang hamba bisa terhalang rezekinya karena dosa yang menimpanya.”

3. Perasaan alienasi pada diri si pendosa yang tiada tandingannya dan tiada terasa kelezatan.

4. kegelapan yang dialami oleh tukang maksiat di dalam hatinya seperti perasaan di kegelapan malam.

5. Terhalangnya ketaatan.

6. Maksiat memperpendek umur dan menghapus keberkahannya.

7. Maksiat akan melahirkan maksiat lain lagi, demikian kata ulama salaf: Hukum kejahatan adalah kejahatan lagi sebagaimana kebaikan akan melahirkan kebaikan lagi.

8. Orang yang melakukan dosa akan terus berjalan ke dalam dosanya sampai dia merasa dirinya hina. Itu pertanda-tanda kehancuran.

9. Kemaksiatan menyebabkan kehinaan. Dan kebaikan melahirkan kebanggaan dan kejayaan.

10. Maksiat merusak akal, sedang kebaikan membangun akal.

Ganjaran orang yang meninggalkan dosa besar

Jika orang yang melakukan dosa besar akan menimbulkan efek negatif pada dirinya, keluarga, dan masyarakatnya. Sebaliknya, orang yang mampu dan berhasil menahan diri dari melakukan perbuatan dosa, akan mendapatkan ganjaran yang sangat besar disisi Allah, diantaranya:

1. Terhapusnya dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya

2. Digantinya kejahatan dengan kebaikan

3. Dimasukkan ke dalam surga

Bertaubat setelah berbuat dosa

Taubat yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, pasti akan diterima oleh Allah SWT. Dan taubat yang sungguh-sungguh harus memenuhi beberapa kriteria, diantaranya:

Pertama, Menyesali kesalahan. Kesalahan yang telah dilakukannya disadari sebagai kesalahan, dan mengikrarkan di dalam hati dengan penyesalan karena terlanjur telah melakukannya. Kesedihan hati telah melakukan kesalahan merupakan tanda penyesalan. Dan penyesalan seseorang terhadap kesalahan dirinya adalah pertanda bahwa dirinya telah bertaubat.

Hal ini diungkapkan oleh Rasulullah saw., “Penyesalan adalah pertanda taubatnya seseorang.” (H.R. Abu Dawud dan Al-Hakim).

Kedua, Mengakui diri bersalah. Seseorang yang telah melakukan kesalahan, dan mengakui bahwa dirinya telah bersalah, kemudian dia bertekad untuk tidak mengulanginya lagi, maka dia dinyatakan telah bertaubat, “Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.S. Ali Imraan 3 : 135)

Ketiga, Membutuhkan ampunan Allah SWT. Ampunan Allah sangat dibutuhkan ketika kita ingin mensucikan hati dari perbuatan dosa yang telah kita lakukan. Prilaku seperti ini pernah dilakukan oleh Adam dan Hawa disaat mereka melakukan pelanggaran kepada Allah SWT., “Keduanya (Adam dan Hawa) berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-‘Araf 7 : 23).

Keempat, Tidak mengulangi lagi perbuatan dosa. Berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan dosa yang ia lakukan adalah bukti bahwa ia telah bertaubat. Dan kesalahan yang pernah ia perbuat harus diganti dengan amalan-amalan shaleh, jika taubat dirinya ingin diterima oleh Allah SWT.,

“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat pembalasan dosa (nya). (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka kejahatan mereka itu diganti oleh Allah dengan kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Furqaan 25 : 68 – 70).

Dan dalam ayat berikutnya Allah menjelaskan, “Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu,dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqaan 25 : 71 – 72).

Ayat ini merupakan kabar gembira bagi orang-orang yang bertaubat, sehingga ketika ayat ini turun, Rasulullah sangat bergembira dikarenakan Allah SWT masih membuka lebar pintu taubat bagi hamba-hambanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: