Ilmu, Amal, Ikhlas…. (WestCoast TeleHalaqah)

Menjauhi Akhlak tercela
Akhlak adalah situasi hati yang mantap, yang muncul ke permukaan dari individu
muslim dengan reflek tanpa dipertimbangkan. Apabila situasi hati itu menimbulkan

amal perbuatan yang baik dan terpuji menurut akal dan agama, ia disebut akhlak
yang baik. Dan jika yang timbul darinya adalah amal perbuatan yang buruk,
berarti situasi yang menjadi sumbernya adalah situasi hati atau akhlak yang
buruk.

Di antara akhlak yang tercela tersebut adalah:
1. kesombongan (al-kibr).
Apakah kibr itu? Ia adalah perasaan yang cenderung memandang diri lebih dari
orang lain dan meremehkannya. Kesombongan memerlukan adanya orang yang
disombongi dan hal-hal yang dipergunakan untuk menyombongkan diri.

Ayat- Al-Qur’an dan Hadits yang mencela sikap sombong
* Kemudian Kami katakan kepada malaikat,”Bersujudlah kalian kepada Adam.” Mereka

pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk yang bersujud, Allah
berfirman,”Apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada Adam ketika Aku
menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku
dari api, sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah.” Allah berfirman, “Turunlah
kamu dari surga, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya.”
Maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” (Al-A’raf/7:
11-13)

Rasulullah saw. bersabda, Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya
terdapat sebesar biji sawi kesombongan. (HR. Muslim)

2. Takabbur
Dari ayat dan Hadits di atas dapatlah diketahui bahwa akibat dan bahaya takabbur

banyak sekali. Nabi saw telah menjelaskan bahwa orang yang di dalam hatinya ada
kesombongan walaupun kecil, tidak akan masuk surga.

Hal ini karena sikap sombong menjadi tabir antara seorang hamba dengan
akhlak orang yang beriman seluruhnya. Sedangkan akhlak  merupakan pintu masuk
surga. Dan kesombongan telah menutup pintu-pintu itu seluruhnya. Sebab orang
yang sombong tidak dapat mencintai orang beriman yang lain sebagaimana mencintai

dirinya sendiri, tidak dapat berlaku tawadhu’, padahal tawadhu’ merupakan
pangkal akhlak orang beriman yang bertakwa. Ia tidak dapat terus-menerus menjaga

kejujuran, tidak dapat meninggalkan rasa dendam, marah, dan dengki; tidak dapat
memberi nasehat orang lain; selalu menghina orang dan menggunjingnya.
Sikap sombong inilah yang merupakan dosa pertama iblis yang dipergunakan untuk
durhaka kepada Allah. Akibatnya ia diusir dari jannah, kemudian timbul dendam
kepada Adam a.s.

Seburuk-buruk kesombongan adalah kesombongan yang dapat menghalangi pelakunya
untuk mendapatkan manfaat ilmu dan mengahalangi pelakunya untuk menerima
kebenaran dari orang lain dan tunduk kepada kebenaran. Oleh karena itu
Rasulullah saw menjelaskan kesombongan ini ketika beliau ditanya oleh Tsabit bin

Qais. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, saya adalah orang yang suka keindahan
sebagaimana Engkau lihat. Apakah itu termasuk sombong?” Nabi amenjawab, “Tidak.
Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR Muslim).
Jadi setiap yang memandang dirinya lebih baik daripada orang lain dan
menghinanya serta memandangnya dengan sinis, atau menolak kebenaran padahal ia
mengetahuinya, maka ia telah sombong dan merebut hak-hak Allah.

Faktor-Faktor Penyebab Kesombongan
Ada beberapa sebab yang dapat menimbulkan kesombongan, Ada yang bersifat
keagamaan seperti ilmu dan amal, dan ada yang bersifat keduniaan seperti nasab,
ketampanan, kekayaan, dan banyaknya pendukung.

1. Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan dapat dengan cepat menjangkiti orang menjadi sombong. Seseorang

merasa dalam dirinya terdapat kesempurnaan ilmu, lalu merasa dirinya hebat,
menganggap orang lain bodoh. Kesombongan karena ilmu disebabkan dua hal:
pertama, karena menekuni sesuatu yang disebut ilmu, padahal sebenarnya bukan.
Sebab ilmu yang hakiki dapat untuk mengenal Tuhannya, dan dapat mengenalkan
berbagai hal ketika berurusan dengan Allah. Ilmu yang benar dapat menimbulkan
rasa takut dan tawadhu’, bukan sebaliknya. Seperti dalam firman
Allah,“Sesungguhnya yang takut pada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah
ulama’” (QS Fathir/35: 28)

Menggeluti ilmu dengan batin yang kotor, jiwa yang rendah dan akhlak yang buruk.

yaitu tidak lebih dahulu melakukan tazkiatun nafs, menekuni pensucian jiwa dan
pembersihan hatinya dengan berbagai macam mujahadah, dan tidak menempa jiwanya
dengan ibadah. Akibatnya, ilmu yang ditekuninya tidak membawa bekas kebaikan.
Dari Usamah bin Zaid r.a., ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda,
‘Akan ada orang yang dibawa pada hari kiamat lalu dilemparkan ke dalam neraka
sehingga isi perutnya keluar, lalu ia berputar-putar seperti keledai
berputar-putar dalam penggilingan. Kemudia para ahli neraka mengelilinginya dan
berkata, ‘Hai Fulan, mengapa kamu (demikian), bukankah kamu (dahulu)
memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar?’ Ia menjawab, ‘Ya, saya
dahulu saya memerintahkan yang ma’ruf, namun saya tidak mengerjakannya, dan saya

mencegah yang mungkar, namun saya mengerjakannya’” (HR Muslim).

2. Amal dan Ibadah
Ahli ibadah kadang-kadang menyombongkan diri atas orang-orang lain, terhadap
orang yang tidak melakukan amal ibadah seperti yang dilakukannya. Sikap seperti
ini adalah sebuah kebodohan.
Cara mengatasinyaadalah dengan memahami bahwa diterimanya ibadah itu. disertai
dengan niat ikhlas, taqwa dan terjaga dari hal-hal yang dapat merusakkannya.
Allah berfirman, “Maka janganlah kamu menganggap suci dirimu sendiri. Dia lebih
mengetahui orang yang bertaqwa” (QSAn-Najm/ : 32). Ayat ini mengisyaratkan bahwa

pensucian jiwa itu hanya dengan taqwa. “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal
ibadah) dari orang-orang yang bertaqwa” (QS Al-Maidah/5:27).

3. Keturunan dan Nasab. Tidak sedikit kasus orang-orang yang membanggakan diri
hanya karena keturuna atau nasab. Ungkapan mereka “siapa kamu” atau “siapa orang

tuamu”, “aku keturunan si anu” dan “lancang sekali kamu berani bicara denganku”
adalah contohnya.
Untuk mengatasi sikap demikiandapat memperhatikan wasiat Rasulullah sebagai
berikut:
Telah diriwayatkan Abu Dzar r.a..Ia berkata, “Saya pernah mengejek seseorang di
sisi Nabi saw. Saya berkata kepadanya, ‘Hai, anak si wanita hitam!’ Kemudian
Nabi saw. marah dan bersabda, ‘Hai, Abu Dzar! Tidak ada kelebihan bagi anak
perempuan berkulit putih atas anak perempuan berkulit hitam’. ‘Lalu saya
berbaring dan berkata kepada orang tersebut, ‘Berdirilah dan injaklah pipiku!’”
(HR Ibnul Mubarak).
Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana Abu Dzar menyadari kekeliruannya, yakni

sombong, dan kesiapan menerima balasan (hukuman) langung dari orang yang
bersangkutan. Ia mengetahui bahwa kesombongan akan membawa kehinaan.).

4. Kecantikan atau Ketampanan.
Ini banyak terjadi pada kaum wanita. Karena kecantikannya menjadi sombong dan
mencela orang lain, dan menyebut-nyebut cacat (kekurangannya).
Untuk mengatasi hal ini dengan memperhatikan aspek batindan jangan memandang
lahiriahnya. Sebab secara lahiriah, manusia pada umumnya sama saja. Misalnya
perut ada tahinya, hidung dan telinga ada kotorannya, keringatnya berbau, dll.
Dengan cara demikian ini, kita dapat mengetahui berbagai keburukan manusia yang
diciptakan dari sesuatu yang menjijikkan, kemudian mati dan menjadi bangkai.
Kecantikan dan ketampanan tidaklah kekal. Ia dapat rusak dan hilang setiap saat
karena sakit atau sebab lainnya.
Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk (lahiriah)-mu,
tetapi melihat hatimu” (HR )

5. Harta Kekayaan.
Ini biasanya mengenai orang-orang yang kaya (aghniya’). Kelebihan dalam kekayaan

atau materi, seperti rumah, kendaraan, pakaian, dan harta benda yang lain
menyebabkan 0rang kaya menghina yang miskin.
Cara mengatasi hal ini dengan merenungkan hakikat kekayaan. Nabi bersabda,
“Kekayaan itu bukanlah banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan itu adalah
kaya jiwa” (HR ).

6.Keenam, Banyaknya Pengikut dan Kekuasaan.
Ini biasanya mengenai para pemimpin dan para tokoh. Kedudukan (kekuasaan)
berkait erat dengan banyak pengikut atau pendukung. Keduanya sering menjadikan
seseorang terjatuh dalam kesombongan.
“Katakanlah, “Ya, Allah Penguasa segala penguasa, Engkau berikan kekuasaan
kepada yang Kau kehendaki, dan Engkau cabut dari siapa yang Kau kehendaki;
Engkau muliakan siapa yang Kau kehendaki, dan Engkau hinakan siapa yang Kau
kehendaki dengan kaikan kekuasaan-Mu. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala
sesuatu’” (QS Ali Imran/3:26)

7. Kekuatan Fisik dan Keperkasaan.
Orang-orang yang badannya besar, kekar dan perkasa sering terlalu
membanggakannya sehinga terperosok pada kesombongan. Mereka merasa kuat dan tak
terkalahkan.
Untuk menghilangkan kesombongan ini dengan mengetahui dan menyadaribahwa
kekuatan fisik bukanlah kemuliaan yang sesungguhnya; ia tidak kekal dan dapat
hilang dengan mudahnya. Misalnya orang yang sangat kuat dan perkasa bisa menjadi
lumpuh. Jadi tidaklah layak menyombongkan diri hanya karena kelebihan fisik dan
keperkasaan.

Kesimpulan
Akibat kesombongan adalah timbulnya perilaku tercela. Misalnya tidak dpat
mencintai saudara seiman sebagaimana mencintai dirinya sendiri, tidak dapat
berlaku tawadhu’, tidak dapat menjaga kejujuran, tidak dapat menjahui rasa
dendam, marah dan dengki, tidak dpat bersikap lemah lembut, tidak mau menerima
nasihat orang lain, suka menghina orang lain, dan sebaginya.
Bahaya kesombongan yang paling buruk adalah menghalangi pelakunya dari mengambil
manfaat ilmu, dan menolak kebenaran yang disampaikan orang lain. Dan akhirnya
dapat menghalangi pelakunya masuk surga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: