Ilmu, Amal, Ikhlas…. (WestCoast TeleHalaqah)

5 Oktober 2010

DALAM urut-urutan rukun Iman, mengimani atau mempercayai kitab-kitab Allah atau buku-buku suci yang diturunkan Allah kepada para nabi, menempati urutan ketiga. Setelah beriman kepada Allah dan malaikatnya, seorang muslim wajib mengimani kitab-kitab Allah.

 

Secara imaniah, pada masa manusia masih berbentuk ruh, terjadilah perjanjian antara-ruh dengan Tuhan.

Al Qur’an mengisahkan yang kurang lebihnya: “..Tuhan bertanya: Adakah Aku sesembahan kalian? Ruh menjawab: Kami bersaksi…” Selanjutnya, terjadilah kesepakatan antara ruh dengan Tuhan mengenai nasib mereka kelak ketika dihidupkan di dunia; pilihan jenis kelamin, jodoh, ikatan ruh satu dengan ruh lainnya (sebagai anak, pasangan hidup, orang tua, kakek, nenek dsb), jumlah rejeki, usia, jenis cobaan, dan sebagainya. Demikianlah takdir dituliskan. Tuhan hanya menuntut satu hal: apapun dan bagaimana pun kesepakatan itu, manusia harus menyembah kepadaNya, karena itulah tujuan mereka diciptakan.

Ketika manusia secara berurutan memasuki periode hidup di dunia, kehidupan di dunia membuat mereka lalai pada perjanjian semula sebagai tujuan mereka diciptakan. Sifat Maha Kasih Allah menjadi sebab diutusnya para Nabi yang adakalanya dengan disertai dengan diturunkannya kitab suci untuk mengingatkan apa tujuan mereka diciptakan: menyembah kepadaNya.

Dengan kitab-kitab itulah para rasul mengajarkan kepada umatnya kebenaran dan membersihkan jiwa mereka dari kemusyrikan. Kita mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan kitab kepada setiap rasul, karena Allah Ta’ala telah berfirman:

Sungguh kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca agar manusia melaksanakan keadilan…

(Al-Hadid : 25).
Kitab-kitab Allah yang wajib dipercayai yakni :

– Taurat, yang diturunkan Allah Ta’ala kepada Nabi Musa, ‘Alaihissalam. Merupakan kitab terpenting bagi Bani Israil.

Firman Allah :
Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab Taurat yang berisi petunjuk dan nur, dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang yahudi oleh nabi-nabi yang berserah diri, oleh orang-orang alim dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka telah diperintahkan untuk memelihara kitab Allah dan mereka menjadi saksi atasnya…” (Al-Ma’idah : 44).

Injil, diturunkan Allah Ta’ala kepada Nabi Isa, Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai pembenar dan pelengkap Taurat. Firman Allah Ta’ala:
…Dan kami telah memberikan kepadanya Injil yang berisi petunjuk dan nur, dan sebagai pembenar kitab yang sebelumnya yaitu Taurat, serta sebagai petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Ma’idah :46).
Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalakan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu…” (Ali ‘Imran :50)

Zabur, kitab yang diberikan Allah Ta’ala kepada Nabi Daud ‘Alaihissallam.

-Shuhuf (lembaran-lembaran) yang diturunkan kepada Nabi Musa dan Ibrahim ‘Alaihimash-Shalatu wassalam.

Al-Qur’an-Al-Azhim, kitab yang diturunkan Allah kepda Nabi Muhammad, sebagai penutup para nabi. Firman Allah:
Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan yang batil…” (Al-Baqarah:185).
Dan kami telah turunkan kepadamu kitab (al-Qur’an) ini dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjadi saksi atasnya…” (Al-Ma’idah :48).
Maka dengan diturunkannya Al-Qur’an, Allah mencabut keberlakuan hukum kitab-kitab yang sebelumnya dan menjamin untuk memeliharanya dari tindakan kejahatan orang yang mau merusaknya dan merubahnya, karena Al-Qur’an akan tetap lestari menjadi bukti yang nyata bagi seluruh makhluk sampai datang hari kiamat nanti.

Firman Allah :

Sesungguhnya kami telah menurunkan Adz-Dzikr dan sesungguhnay kami benar-benar menjaganya.” (Al-Hijr :9).

Setiap kitab suci yang diturunkan selalu mengisyaratkan akan datangnya nabi dan kitab suci berikutnya yang akan dihadiahkan Tuhan kepada manusia dan akan datangnya hadiah terbesar dari Tuhan yakni Nabi Pamungkas (Muhammad atau Ahmad SAW) beserta kitab suci Pamungkas yang merangkum dan menyempurnakan kitab-kitab suci sebelumnya, yakni: Al Qur’an.

Karena keasliannya, Al Qur’an yang terdiri dari 30 juz, 114 surat , 6666 (enam ribu enam ratus enampuluh enam) ayat dapat dengan mudah dihafalkan siapa saja.

Bandingkan dengan buku yang hanya 100 halaman saja misalnya, sulit atau malah mustahil dapat dengan mudah dihapal.

Sejak pertama kali diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW sampai sekarang, menghapal Al Qur’an menjadi salah satu kebiasaan orang-orang Islam dengan koridor hukum fardlu kifayah (kewajiban bersama).

Hari ini, jutaan umat Islam adalah seorang hafidz (hapal Al Qur’an). Seiring waktu, diiantara mereka mungkin ada yang meninggal dunia, tetapi hafidz-hafidz baru terus bermunculan. Demikianlah salah satu perwujudan janji Tuhan untuk terus menjaga keaslian dan kemurnian Al Qur’an: isi, kata-kata, bahkan sampai “titik-koma”-nya.

Sebab keasliannya pula setiap ayat Al Qur’an senantiasa cocok dan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Jauh sebelum Gallileo Galiley (?) dihukum mati pihak gereja karena statemennya “bumi itu bulat” tidak sesuai dengan Bibel, Al Qur’an telah mengisyaratkan “bulat”-nya tidak hanya bumi, tapi juga matahari, bulan, bintang. Jauh sebelum ilmu kedokteran menjelaskan proses pembuahan sperma atas ovum, lalu menjadi zigot, janin dan keluar dari rahim, Al Qur’an secara rinci telah menjelaskannya. Perlu diingat, Tuhan pun membuat pernyataan tantangan kepada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, yang bunyinya kurang-lebih:

Jika kalian dalam keraguan mengenai (Al Qur’an) yang Aku turunkan kepada hambaKu (Muhammad), datangkan (buatkanlah) satu surat saja yang seperti itu, ajaklah bekerja sama siapa saja selain Allah untuk membuatnya. Tetapi, jika kalian tak mampu membuatnya, dan memang kalian tak akan mampu, takutlah akan api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Itulah (neraka) yang disediakan bagi orang-orang kafir (tidak mempercayai Al Qur’an).”

Dikaitkan dengan mukjizat yang biasa menyertai para nabi, Al Qur’an adalah mukjizat terbesar dari kenabian Muhammad SAW. Nabi Musa AS bermukjizatkan tongkat yang dengan ijin Tuhan bisa memakan ular-ular para penyihir, membelah laut merah, memunculkan mata-air di celah bebatuan, menghidupkan mayat yang telah dikuburkan, dan telapak tangan beliau yang bercahaya tanpa noda. Nabi Isa yang dengan menyebut nama Tuhan bisa menghidupkan patung burung, orang yang telah mati, dan menyembuhkan kebutaan sejak lahir.

Nabi Muhammad SAW juga dianugrahi berbagai mukjizat, namun beliau berkali-kali menyampaikan Al Qur’an-lah mukjizat terbesarnya. Mukjizat yang dapat dinikmati siapa saja sampai akhir masa.

Sebagian ulama seperti Imam Syafi’I, Al Ghazali, sampai Syeh Nawawi Al Bantani menafsirkan sabda nabi tersebut dengan kefasihan Al Qur’an. Kefasihan disini maksudnya adalah kebenaran, kecerdasan, kesahihan, ketakterbantahan dari Al Qur’an sepajang masa. Maksudnya, siapa saja yang cerdas, cermat, jujur, dan objektif mempelajari Al Qur’an, sudah semestinya mengimani Al Qur’an.

Walahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: