Ilmu, Amal, Ikhlas…. (WestCoast TeleHalaqah)

Aurat wanita Muslimah

Makna Aurat

Disampaikan 19 Oktober 2010

Kata “aurat” menurut bahasa berarti an naqshu (kekurangan). Dan dalam istilah syar’iy (agama), kata aurat berarti: sesuatu yang wajib di tutup dan haram dilihat. Dan para ulama telah bersepakat tentang kewajiban menutup aurat baik dalam shalat maupun di luar shalat. [1]

Menjaga aurat adalah konsekuensi logis dari konsep menundukkan pandangan, atau sering pula disebut sebagai langkah kedua dalam mengendalikan keinginan dan membangun kesadaran, setelah konsep menundukkan pandangan. Dari itulah dua hal ini diletakkan dalam satu rangkaian ayat yang mengisyaratkan adanya hubungan sebab akibat, atau keduanya sebagai dua langkah strategis yang saling mendukung.

Hakikat menutup Aurat

Hakikat pakaian menurut Islam ialah untuk menutup aurat, yaitu menutup bagian anggota tubuh yang tidak boleh dilihat oleh orang lain. Syariat Islam mengatur hendaknya pakaian tersebut tidak terlalu sempit atau ketat, tidak terlalu tipis atau menerawang, warna bahannya pun tidak boleh terlalu mencolok, dan model pakaian wanita dilarang menyerupai pakaian laki-laki. Selanjutnya, baik kaum laki-laki maupun perempuan dilarang mengenakan pakaian yang mendatangkan rasa berbangga-bangga, bermegah-megahan, takabur dan menonjolkan kemewahan yang melampaui batas.

Aurat Wanita Dan Hukum Menutupnya

Yang menjadi dasar aurat wanita adalah:

1. Al-Qur’an

Allah SWT berfirman :

“Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumur (jilbab)nya ke dadanya”. (QS. An-Nur : 30-31)

Ayat ini menegaskan empat hal :

a. Perintah untuk menahan pandangan dari yang diharamkan oleh Allah.

b. Perintah untuk menjaga kemaluan dari perbuatan yang haram.

c. Larangan untuk menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak.

d. Perintah untuk menutupkan khumur ke dada. Khumur adalah bentuk jamak dari khimar yang berarti kain penutup kepala. Atau dalam bahasa kita disebut jilbab.

Allah SWT berfirman :

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin : Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs. Al-Ahzab: 59).

Jilbab dalam bahasa Arab berarti pakaian yang menutupi seluruh tubuh (pakaian kurung), bukan berarti jilbab dalam bahasa kita (lihat arti kata khimar di atas). Ayat ini menjelaskan pada kita bahwa menutup seluruh tubuh adalah kewajiban setiap mukminah dan merupakan tanda keimanan mereka.

2. Hadits Nabi SAW

Dalam riwayat Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasulullah dengan pakaian yang tipis, lantas Rasulullah berpaling darinya dan berkata : Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haidh (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini, sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan. (HR. Abu Daud dan Baihaqi).

Hadits ini menunjukkan dua hal:

  1. Kewajiban menutup seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan.
  2. Pakaian yang tipis tidak memenuhi syarat untuk menutup aurat.

Dari kedua dalil di atas jelaslah batasan aurat bagi wanita, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan. Dari dalil tersebut pula kita memahami bahwa menutup aurat adalah wajib. Berarti jika dilaksanakan akan menghasilkan pahala dan jika tidak dilakukan maka akan menuai dosa.

 

 

Aurat wanita di dalam sholat :
Salah satu syarat sah-nya sholat adalah menutup aurat.

Di masa jahiliyah kata Ibnu ‘Abbas wanita biasa thawaf di Ka`bah dlm keadaan tanpa busana. Yang tertutupi hanyalah bagian kemaluannya. Mereka thawaf seraya bersyair:
Pada hari ini tampak tubuhku sebagian atau pun seluruhnya
Maka apa yg nampak dari tidaklah daku halalkan

Maka turunlah ayat :
“Wahai anak Adam kenakanlah zinah (pakaian yang indah) kalian tiap kali menuju masjid”(Al-A’raaf:31) (Shahih HR. Muslim no. 3028)

Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Dulu orang2 jahiliyah thawaf di Ka`bah dlm keadaan telanjang. Mereka melemparkan pakaian mereka dan membiarkan tergeletak di atas tanah terinjak-injak oleh kaki orang2 yg lalu lalang. Mereka tdk lagi mengambil pakaian tersebut utk selama hingga usang dan rusak. Demikian kebiasaan jahiliyah ini berlangsung hingga datanglah Islam dan Allah memerintahkan mereka utk menutup aurat sebagaimana firman-Nya:
“Wahai anak Adam kenakanlah zinah kalian tiap kali shalat di masjid”.(Al-A’raf :31)

Nabi  bersabda:
“Tidak boleh orang yg telanjang thawaf di Ka`bah”. (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi 18/162-163)

 

Hadits di atas selain disebutkan Al-Imam Al-Bukhari t pada nomor di atas pada kitab Al-Haj bab “Tidak boleh orang yg telanjang thawaf di Baitullah dan tdk boleh orang musyrik melaksanakan haji” disinggung pula oleh beliau dlm kitab Ash-Shalah bab “Wajib shalat dgn mengenakan pakaian.”

 

Saya (Abu Hurairah) diutus oleh Abu Bakar pada hari raya haji bersama dengan orang-orang yang ditugaskan untuk memaklumkan di Mina bahwa orang musyrik tidak diperbolehkan naik haji sesudah tahun ini dan tidak dibolehkan tawaf di Baitullah dengan telanjang. Kemudian Rasulullah saw. menyusuli dengan mengutus Ali bin Abu Talib dan memerintahkannya untuk memaklumkan (membaca ayat) Bara’ah dan orang musyrik tidak dibolehkan haji lagi sesudah tahun itu dan tidak dibolehkan tawaf di Baitullah dengan telanjang (sebagaimana kebiasaan kaum musyrikin).
(H.R. Bukhari dan Muslim)
Dan berkata Abu Hurairah lagi:

كنت نع علي بن أبي طالب حين بعثه رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى أهل مكة ببراءة فقال: ما كنتم تنادون؟ قال: كنا ننادي أنه لا يدخل الجنة إلا نفس مؤمنة ولا يطوف بالبيت عريام ومن كان بينه وبين رسول الله صلى الله عليه وسلم عهد فإن أجله أو مدته إلى أربعة أشهر فإذا مضت الأربعة فإن الله بريء من المشركين ورسوله ولا يحج هذا البيت بعد عامنا هذا مشرك
Artinya:
Saya bersama-sama dengan Ali bin Abu Talib ketika ia diutus Rasulullah saw. kepada penduduk Mekah dengan (membacakan) ayat Bara’ah lalu ia bertanya: “Apakah yang kamu serukan (umumkan)?” Ali menjawab: “Kami serukan bahwa tidak ada yang masuk surga melainkan orang-orang mukmin, tidak dibolehkan tawaf di Baitullah dengan telanjang, barang siapa yang ada janji dengan Rasulullah saw. maka temponya atau masanya sampai empat bulan dan apabila selesai empat bulan, maka Allah dan Rasul-Nya membebaskan diri dari orang-orang musyrikin, dan tidak dibolehkan orang musyrikin naik haji ke Baitullah ini sesudah tahun kita ini (tahun ke 9 Hijrah).”
(H.R. Ahmad dari Abu Hurairah)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t dlm syarah terhadap hadits di atas dlm kitab Ash-Shalah berkata: “Sisi pendalilan hadits ini terhadap judul bab yg diberikan Al-Imam Al-Bukhari adl bila dlm thawaf dilarang telanjang mk pelarangan hal ini di dlm shalat lbh utama lagi krn apa yg disyaratkan di dlm shalat sama dgn apa yg disyaratkan di dlm thawaf bahkan dlm shalat ada tambahan. Jumhur berpendapat menutup aurat termasuk syarat shalat”.

Al-Imam Asy-Syaukani t berkata dlm tafsirnya: “Mereka diperintah utk mengenakan zinah ketika datang ke masjid utk melaksanakan shalat atau thawaf di Baitullah. Ayat ini dijadikan dalil utk menunjukkan wajib menutup aurat di dlm shalat. Demikian pendapat yg dipegangi oleh jumhur ulama. Bahkan menutup aurat ini wajib dlm segala keadaan sekalipun seseorang shalat sendirian sebagaimana ditunjukkan dlm hadits-hadits yg shahih.” .

Ada perbedaan antara batasan aurat yg harus ditutup di dlm shalat dgn aurat yg harus ditutup di hadapan seseorang yg tdk halal utk melihat sebagaimana ada perbedaan yg jelas antara aurat laki2 di dlm shalat dgn aurat wanita.

 

Ibnu Taimiyyah t mengatakan: “Mengenakan pakaian di dlm shalat adl dlm rangka menunaikan hak Allah maka tidak boleh seseorang shalat ataupun thawaf dalam keadaan telanjang walaupun ia berada sendirian di malam hari. maka dengan ini diketahuilah bahwa mengenakan pakaian di dalam shalat bukan karena ingin menutup tubuh dari pandangan manusia krn ada perbedaan antara pakaian yg dikenakan utk berhijab dari pandangan manusia dgn pakaian yg dikenakan ketika shalat”.

Perlu diperhatikan di sini menutup aurat di dlm shalat tidaklah cukup dgn berpakaian ala kadar yg penting menutup aurat tdk peduli pakaian itu terkena najis bau dan kotor misalnya. Namun perlu memperhatikan sisi keindahan dan kebersihan krn Allah  dlm firman-Nya memerintahkan utk mengenakan zinah ketika shalat sebagaimana dlm ayat di atas. Sehingga sepantas seorang hamba shalat dgn mengenakan pakaian yg paling bagus dan paling indah krn dia akan ber-munajat dgn Rabb semesta alam dan berdiri di hadapan-Nya. Demikian secara makna dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah t dlm Al-Ikhtiyarat hal. 43 sebagaimana dinukil dlm Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni‘ 2/145.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t membawakan beberapa syarat pakaian yg dikenakan dlm shalat. Ringkasnya adalah sebagai berikut:
1. Tidak menampakkan kulit tubuh yg ada di balik pakaian
2. Bersih dari najis
3. Bukan pakaian yg haram utk dikenakan seperti sutera bagi laki2 atau pakaian yg melampaui/ melebihi mata kaki bagi laki2 .
4. Pakaian tersebut tdk membuat bahaya bagi pemakainya.

 

Bagian Tubuh yg Harus Ditutup

Berkata Al-Khaththabi t: “Ulama berbeda pendapat tentang bagian tubuh yg harus ditutup oleh wanita merdeka dlm shalatnya. Al-Imam Asy-Syafi`i dan Al-Auza`i berkata: ‘Wanita menutupi seluruh badan ketika shalat kecuali wajah dan dua telapak tangannya.’ Diriwayatkan hal ini dari Ibnu Abbas dan ‘Atha. Lain lagi yg dikatakan Abu Bakar bin Abdirrahman bin Al-Harits bin Hisyam: ‘Semua anggota tubuh wanita merupakan aurat sampaipun kukunya.’ Al-Imam Ahmad sejalan dgn pendapat ini beliau menyatakan: ‘Dituntunkan bagi wanita utk melaksanakan shalat dlm keadaan tdk terlihat sesuatupun dari anggota tubuh tdk terkecuali kukunya’.” 2.

Sebenar dlm permasalahan ini tdk ada dalil yg jelas yg bisa menjadi pegangan kata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t. . Oleh krn itu Ibnu Taimiyyah t berpendapat seluruh tubuh wanita merdeka itu aurat kecuali bagian tubuh yg biasa nampak dari ketika di dlm rumah yaitu wajah dua telapak tangan dan telapak kaki.

Dengan demikian ketika seorang wanita shalat sendirian atau di hadapan sesama wanita atau di hadapan mahram dibolehkan bagi utk membuka wajah dua telapak tangan dan dua telapak kakinya. . Walaupun yg lbh utama bila ia menutup dua telapak kakinya.

 

Aurat wanita di luar sholat (dalam pandangan):

 

Dalam riwayat Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasulullah dengan pakaian yang tipis, lantas Rasulullah berpaling darinya dan berkata : Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haidh (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini, sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan. (HR. Abu Daud dan Baihaqi).

Hadits ini menunjukkan dua hal:

  1. Kewajiban menutup seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan.
  2. Pakaian yang tipis tidak memenuhi syarat untuk menutup aurat.

Dari kedua dalil di atas jelaslah batasan aurat bagi wanita, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan. Dari dalil tersebut pula kita memahami bahwa menutup aurat adalah wajib. Berarti jika dilaksanakan akan menghasilkan pahala dan jika tidak dilakukan maka akan menuai dosa.

A. Aurat wanita bersama wanita

Wanita bersama dengan kaum wanita, bagaikan laki-laki bersama dengan laki-laki, diperbolehkan melihat seluruh badannya kecuali antara lutut dan pusarnya, kecuali diindikasikan akan membawa fitnah, maka tidak boleh menampakkan bagian tubuh itu. Hanya saja kepada wanita yang tidak seagama, wanita muslimah tidak boleh menampakkan auratnya sebagaimana kepada sesama wanita muslimah. Karena wanita yang tidak seagama berstatus orang lain bagi wanita muslimah. Allah berfirman :

Artinya: …atau wanita-wanita Islam…. (QS. An Nur/24:30) ralat yg benar ayat 31

B. Aurat wanita di hadapan laki-laki

Keberadaan wanita di hadapan lawan jenisnya memiliki rincian hukum yang berbeda-beda, yaitu:

a. Di hadapan laki-laki lain, yang tidak ada hubungan mahram.

Maka seluruh badan wanita adalah aurat, kecuali wajah dan telapak tangan. Karena keduanya diperlukan dalam bermuamalah, memberi dan menerima.

Pandangan laki-laki kepada wajah dan telapak tangan wanita bisa diklasifikasikan dalam tiga kelompok, yaitu:

1. Tidak diperbolehkan dengan sengaja melihat wajah dan telapak tangan wanita lain tanpa tujuan syar’i. Dan jika tanpa sengaja melihatnya maka segera harus memalingkan pandangan seperti yang telah dijelaskan pada pandangan faj’ah (tanpa sengaja).

2. Melihat karena ada tujuan syar’i dan tidak ada fitnah, seperti melihat untuk melamar. Rasulullah menyuruh Mughirah bin  Syu’bah untuk melihat wanita yang hendak dinikahinya:

Jika salah seorang di antaramu, meminang seorang wanita maka jika ia mampu melihat bagian yang mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah. (H.R. Ahmad, dan Abu Daud)

Dan untuk semua tujuan itu,  seseorang diperbolehkan melihat wajahnya, yang dengan melihat wajah itu sudah cukup untuk mengenalinya.

3. Memandang dengan syahwat, inilah pandangan terlarang, seperti yang disebutkan dalam hadits Nabi:

Nabi saw bersabda :

“Telah ditetapkan atas setiap anak Adam bagian dari zina, zina mata adalah pandangannya, zina mulut adalah ucapannya, zina telinga adalah mendengarkannya, zina tangan adalah memegangnya, zina kaki adalah melangkah menemuinya, nafsunya berharap dan berselera, kemaluannya membenarkan atau mendustakannya. (H.R. Ibnu Majah)

dalam surat an-nur ; 30 disebutkan :

” katakanlah kepada laki2 yg beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, yg demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yg mereka perbuat”

 

Asbabun nuzul ayat 30 ini sangat memperjelas kewajiban menjaga pandangan, yaitu kisah seorang laki-laki yang lewat di salah satu jalan di Madinah, ia memandangi seorang wanita. Dan wanita itupun membalas memandanginya. Setan ikut bermain menggoda keduanya, sehingga keduanya saling mengagumi. Sambil berjalan laki-laki itu terus memandangnya hingga ia menabrak tembok dan berdarah hidungnya. Ia berkata:

“Demi Allah! Saya tidak akan membasuh darah ini sebelum saya menemui Rasulullah SAW lalu saya ceritakan kejadian ini.”

Laki-laki itu segera menemui Nabi dan menceritakan kejadiannya. Nabi bersabda:

“Inilah hukuman dosamu”. Dan Allah menurunkan  ayat 30 dan 31 ini.[1] surat an-nur

Pengecualian dalam hukum ini adalah jika berada dalam keadaan terpaksa, seperti penglihatan dokter muslim yang terpercaya untuk pengobatan, khitan, atau penyelamatan dari bahaya kebakaran, tenggelam, dsb.

b. Di hadapan laki-laki yang memiliki hubungan mahram

Ada ulama yang mengatakan bahwa dalam kondisi itu wanita hanya boleh menampakkan bagian tubuh yang biasa terlihat sewaktu bekerja, yaitu: rambut, leher, lengan, dan  betis.

Allah berfirman :

“Dan hendaklah mereka menutup kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasan-nya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra  saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka” ( QS. An Nur/24:31)

jadi laki2 yang tmemiliki hubungan mahram adalah :

Ayah, mertua, anak2 laki kandung, anak2 laki bawaan suami, saudara laki2 (kandung/tiri?), putra-putri saudara laki2 dan saudara perempuan (keponakan laki2) dan budak lakii2 yg tidak memiliki syahwat (dibahas dibawah)

 

c. Di hadapan suami

Seorang wanita di hadapan suaminya boleh menampakkan seluruh anggota badannya. Karena segala sesuatu yang boleh dinikmati, tentu boleh juga dilihat.

Allah berfirman :

kecuali kepada suami mereka, …,

Ada sebagian ulama yang mengatakan makruh melihat kemaluan. Karena Aisyah RA mengatakan tentang hubungannya dengan Nabi Muhammad SAW:

Artinya: “Saya tidak pernah melihat darinya dan ia tidak pernah melihat dariku. (H.R. At Tirmidzi)

d. Budak wanita di hadapan orang yang tidak boleh menikmatinya

Aurat budak wanita di hadapan laki-laki yang tidak boleh menikmatinya adalah seperti aurat laki-laki, yaitu antara lutut dan pusar. Dan jika di hadapan tuan yang boleh menikmatinya maka kedudukannya bagaikan istri dengan suaminya.

Allah berfirman :

atau budak-budak yang mereka miliki,….

Ini mungkin sudah tdk dpt berlaku lagi karena tidak ada lagi istilah budak atau pelayan seperti halnya terjadi pada masal rasul

Pakaian Wanita

Islam mengharamkan perempuan memakai pakaian yang membentuk dan tipis sehingga nampak kulitnya. Termasuk di antaranya ialah pakaian yang dapat mempertajam bagian-bagian tubuh khususnya tempat-tempat yang membawa fitnah, seperti: payudara, paha, dan sebagainya.

Dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah saya lihat keduanya itu: (1) Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka pakai buat memukul orang (penguasa yang kejam); (2) Perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, yang cenderung kepada perbuatan maksiat, rambutnya sebesar punuk unta. Mereka ini tidak akan bisa masuk surga, dan tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga itu tercium sejauh perjalanan demikian dan demikian.” (HR. Muslim, Babul Libas)

Mereka dikatakan berpakaian, karena memang mereka itu melilitnya pakaian pada tubuhnya, tetapi pada hakikatnya pakaiannya itu tidak berfungsi menutup aurat, karena itu mereka dikatakan telanjang, karena pakaiannya terlalu tipis sehingga, dapat memperlihatkan kulit tubuh, seperti kebanyakan pakaian perempuan sekarang ini.

Syarat-Syarat Pakaian Wanita

Pada dasarnya seluruh bahan, model dan bentuk pakaian boleh dipakai, asalkan memenuhi syarat-syarat berikut:

  1. Menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
  2. Tidak tipis dan tidak transparan
  3. Longgar dan tidak memperlihatkan lekuk-lekuk dan bentuk tubuh (tidak ketat)
  4. Bukan pakaian laki-laki atau menyerupai pakaian laki-laki.
  5. Tidak berwarna dan bermotif terlalu menyolok. Sebab pakaian yang menyolok akan mengundang perhatian laki-laki. Dengan alasan ini pula maka membunyikan (menggemerincingkan) perhiasan yang dipakai tidak diperbolehkan walaupun itu tersembunyi di balik pakaian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: