Ilmu, Amal, Ikhlas…. (WestCoast TeleHalaqah)

Perang Badar

Disampaikan pada 2 November 2010 

Pada 17 Ramadan tahun ke-2 Hijrah, untuk kali pertama, berlaku peperangan
Badr al-Kubra antara kaum Muslimin dengan kaum kafir Quraish. Menurut  keterangan Ibn Hisyam, Rasulullah SAW bersama pejuang Islam berangkat dari Madinah menuju ke Badar pada 8 Ramadan dan pada 17 Ramadan berlaku peperangan
Badr al-Kubra. Perang itu merupakan sejarah pertama kebangkitan kaum Muslimin atas kekuatan Musyrikin dan kesesatannya.

 

Badar adalah nama tempat di sebuah lembah yang terletak di antara Madinah dan Mekah. Tentera Islam mengawal lokasi strategik dengan menguasai sumber air yang terdapat di situ. Perang ini melibatkan tentera Islam sebanyak 313 anggota berhadapan dengan 1,000 anggota tentera musyrikin Mekah dengan senjata lengkapnya. Dalam peperangan ini, tentera Islam memenangi pertempuran dengan 70 tentera musyrikin terbunuh, 70 lagi ditawan.

 

Dalam peperangan ini Rasulullah SAW mengangkat Amru bin Ummu Maktum atau Abdullah bin Ummu Maktum untuk memimpin shalat orang-orang yang ada di Madinah. Setelah sampai di Rauha, Rasulullah SAW memerintahkan Abu Lubabah untuk kembali ke Madinah, dan mengangkatnya sebagai amir selama Rasulullah SAW pergi.

 

Menurut Muhammad bin Ishaq dalam sirah nabawiyah bahwa setelah Rasulullah SAW mendengar Abu Sufyan akan berangkat ke Syam, beliau menyemangati kaum muslimin agar menghadangnya, dan Rasulullah SAW bersabda, “Inilah kafilah dagang Quraisy yang membawa harta benda mereka. Maka keluarlah kalian untuk menghadangnya, semoga Allah memberikan harta rampasan kepada kalian.

 

Maka kaum Muslimin pun bersegera menyambut seruan itu. Walaupun sebagiannya ada yang merasa ringan, namun yang lain ada juga yang merasa berat. Hal itu disebabkan mereka tidak menyangka bahwa Rasulullah SAW akan menghadapi peperangan.

 

Disaat berada dekat dengan wilayah Hijaz, Abu Sufyan telah memerintahkan mata-matanya untuk mencari dan menyelidiki informasi. Dia juga bertanya kepada kabilah-kabilah yang berpapasan dengannya, karena khawatir terhadap kafilahnya. Sehingga, ada sebagian kafilah yang memberitakan kepadanya, bahwa Muhammad SAW telah meminta para sahabat beliau untuk mencegatmu dan kafilahmu.

 

Maka Abu Sufyan pun bersiap siaga dan berhati-hati setelah itu. Kemudian, dia mengupah Dhamdham bin Amru Al-Ghifari untuk diutus kepada penduduk Makkah agar keluar membela kafilah dagang mereka, dan mengabarkan kepada mereka bahwa Muhammad SAW bersama para sahabatnya telah mengancamnya dan mencegatnya. Maka, berangkatlah Dhamdham bin Amru Al-Ghifari ke Makkah.

 

Sementara, Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat beliau telah sampai ke suatu lembah, yang dinamakan dengan Dafaran. Lalu Beliau berangkat, namun di salah satu bagian lembah tersebut, beliau mendapat khabar bahwa Quraisy telah bertolak ke arah Rasulullah SAW untuk membela kafilah mereka.

 

Kemudian, Rasulullah SAW bermusyawarah dengan para sahabat, memberitahukan tentang berita dari Quraisy. Abu Bakar ra., dan Umar bin Khatthab ra. mendengarkan dengan baik  berita dari Rasulullah tersebut

 

Lalu berdirilah Miqdad bin Amru seraya berkata, “wahai Rasulullah, majulah ke arah yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada anda, karena kami akan selalu bersama anda. Demi Allah, kami tidak akan berkata seperti Bani Israil berkata kepada Musa, Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (QS. Al-Maidah; 24).

 

Namun, berangkatlah Anda dan Tuhan Anda. Dan berperanglah, karena kami akan berperang bersama Anda dan Tuhan Anda. Demi Allah, yang telah mengutus Anda dengan kebenaran, seandainya Anda membawa kami ke Barkil Gamad yaitu suatu kota di Habasyah (Etiopia), maka kami bertahan dan bersabar bersama Anda untuk menuju kepadanya, hingga Anda mencapainya.

 

Kemudian Rasulullah SAW bersabda kepadanya dengan sabda yang baik dan mendoakan kebaikan untuknya, “Berilah pendapat untukku wahai orang-orang!. Rasulullah SAW mengarahkan maksud beliau kepada orang-orang Ansar, – hal itu disebabkan mereka adalah terbanyak jumlahnya – dan hal itu disebabkan pula oleh baiat mereka kepada Rasulullah SAW di Aqabah.

 

Mereka berkata, “wahai Rasulullah SAW sesungguhnya kami bebas dari perlindungan terhadap diri Anda, hingga Anda sampai ke negeri kami. Bila Anda telah sampai ke negeri kami, maka Anda telah berada dalam perlindungan kami. Kami akan melindungi dan membela Anda dari segala sesuatu yang kami bela, sebagaimana anak-anak dan isteri-isteri kami.

 

Rasulullah SAW merasa khawatir bahwa orang-orang Anshar tidak memandang wajib bagi mereka untuk membela Rasulullah SAW dan menolongnya, melainkan hanya atas musuh yang menyerang beliau di Madinah, dan bahwa mereka tidak harus ikut serta menyerbu musuh yang jauh dari negeri Madinah.

 

Setelah Rasulullah SAW menyatakan sabda tersebut, Sa’ad bin Mu’adz ra. Berkata, “Demi Allah, seolah-olah Anda menginginkan kami wahai Rasulullah SAW?

 

Rasulullah saw. Bersabda, “benar. Sa’ad bin Mu’adz ra. Berkata, kami telah beriman kepada Anda dan membenarkan Anda, dan kami telah bersaksi bahwa risalah yang Anda bawa dan emban adalah kebenaran dan haq. Kami juga telah memberikan sumpah dan janji kami kepada Anda, bahwa kami akan mendengar dan mentaati anda. Maka, majulah terus wahai Rasulullah SAW kemanapun Allah SWT menyuruh Anda.

 

Karena demi Allah, yang telah mengutus Anda dengan kebenaran. Seandainya Anda menyuruh kami untuk menceburkan diri kami ke dalam lautan ini dan Anda telah menceburkan diri ke dalamnya, maka kami pun akan ikut menceburkan diri kami ke dalamnya bersama Anda. Tidak akan ada seorang pun yang tertinggal.

 

Kami tidak akan takut dan benci bertemu dengan musuh-musuh kami besok. Karena sesungguhnya, kami adalah orang-orang yang sabar dan bertahan dalam perang, jujur ketika bertempur, dan semoga Allah SWT menampakkan kepada Anda apa yang menyenangkan hati Anda. Maka bertolaklah bersama kami dengan keberkahan dari Allah SWT.

 

Maka, tampaklah kebahagiaan dalam diri Rasulullah SAW dengan pernyataan Saad. Hal itu membuat beliau bersemangat, seraya bersabda, bertolaklah kalian dengan keberkahan dari Allah SWT dan bergembiralah. Karena sesungguhnya Allah SWT telah menjanjikan kepadaku salah satu dari dua kelompok Quraisy, dan demi Allah, seolah-olah aku melihat kehancuran kaum itu saat ini.

 

 

Dapat dikataan bahwa perperangan Badr in merupakan satu hal yang istimewa karena kaum Muslim menang dalam pertempuran tersebut walau jumlah tentara yang sedikit serta ketidak lengkapan persenjataan waktu itu. Perperangan badr ini tidak sama dengan peperangan yang lain yang memakan masa bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun serta angka korban yang mencapai angka puluhan ribu karena apa yang dinilai adalah objektif peperangan ini yang melakarbelakangi sejarah permulaan pertempuran berdarah antara kebenaran dan kebatilan, antara tauhid dan juga syirik seperti yang dinyatakan  dalam al-quran sebagai Yawm al Furqaan (hari pemisah)

وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ عَبۡدِنَا يَوۡمَ ٱلۡفُرۡقَانِ يَوۡمَ ٱلۡتَقَى ٱلۡجَمۡعَانِ‌ۗ

“Dan tidaklah kali turunkan kepada hamba kami pada hari Al-Furqan pada Hari pertemuan dua pihak” (QS. al-Anfal, 8:41)

Rasulullah SAW sendiri berdo’a kepada Allah SWT supaya kaumnya mendapat kemenangan. Hal ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya dan hebatnya peperangan Badr ini, sehingga waktu berdo’a itu Rasulullah tidak menyadari bahwa kain rida’ yang dipakainya terjatuh daripada bahunya ketika mengangkat tangan karena bersungguh-sungguh dalam doanya::

“Ya Allah, Kau Berilah kemenangan kepada kaum ini, Ya Allah sekiranya kaum ini hancur maka niscaya Engkau tidak lagi disembah di muka bumi sesudah hari ini”

Dalam do’a tersebut tersirat makna akan pentingnya peperangan yang sedang dihadapi kaum muslimin waktu itu, dimana kalah atau menangnya kaum Muslim akan menentukan nasib agama Islam dan tauhid serta ibadah kepada Allah SWT. Seandainya para sahabat dan kaum muslimi yang ikut berperang itu semuanya wafat, maka hilang pulalah syiar Islam, bearkhirlah agama tauhid di muka bumi ini.

 

Do’a Nabi Muhammad dijawab oleh Allah dengan kemenangan kaum Muslimin. Memang peperangan ini adalah suatu yang luar biasa mengingat tentera Islam yang kurang jumlahnya, dan lemah daripada sudut kelengkapan senjata, serta berpuasa dalam bulan Ramadhan memenangi pertempuran Perang Badar. Ini membuktikan puasa bukan penyebab umat Islam bersikap lemah dan malas sebaliknya berusaha demi mencapai keredhaan Allah. Orang yang berjuang demi mencapai kerdhaan Allah pasti mencapai kemenangan yang dijanjikan. Hal ini Allah menegaskannya dalam firmanNya:

وَلَقَدۡ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ بِبَدۡرٍ۬ وَأَنتُمۡ أَذِلَّةٌ۬‌ۖ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ (١٢٣) إِذۡ تَقُولُ لِلۡمُؤۡمِنِينَ أَلَن يَكۡفِيَكُمۡ أَن يُمِدَّكُمۡ رَبُّكُم بِثَلَـٰثَةِ ءَالَـٰفٍ۬ مِّنَ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ مُنزَلِينَ (١٢٤) بَلَىٰٓ‌ۚ إِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ وَيَأۡتُوكُم مِّن فَوۡرِهِمۡ هَـٰذَا يُمۡدِدۡكُمۡ رَبُّكُم بِخَمۡسَةِ ءَالَـٰفٍ۬ مِّنَ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةِ مُسَوِّمِينَ (١٢٥)

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar [2], padahal kamu adalah [ketika itu] orang-orang yang lemah [3]. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (123).” (QS. Ali Imran, 3: 123-125)

 

Perang Badar berakhir setelah bulan Ramadan atau awal dari Syawwal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: